Bagi seisi SMA Nusantara, *Kimi* adalah sebuah kepastian: dia pasti duduk di bangku barisan depan, pasti memakai kacamata berbingkai tebal yang hobi merosot di hidungnya, dan pasti menenggelamkan wajahnya di dalam buku tebal, entah itu ensiklopedia atau kalkulus.
Namun bagi *Gita*, Kimi
adalah sebuah wahana bermain gratis yang tersedia setiap hari dari pukul tujuh
pagi sampai tiga sore.
Gita adalah definisi dari
gadis paling usil, iseng, dan tidak bisa diam di sekolah. Baginya, melihat Kimi
fokus belajar dengan tenang adalah sebuah "pelanggaran" yang harus
segera ditertibkan dengan kejahilan-kejahilannya.
### Bab 1: Ritual Pagi
yang Menyebalkan
Rutinitas pagi Kimi
jarang sekali berubah. Begitu bel masuk berbunyi, ia akan menata alat tulisnya
dengan rapi—penggaris sejajar dengan tempat pensil, dan buku catatan berada
tepat di tengah meja.
Namun, kedamaian itu
hanya bertahan sampai Gita berjalan melewati mejanya.
Pluk.
Sebuah jepit rambut
gelembung berwarna merah muda mendarat tepat di atas rambut Kimi yang rapi.
"Selamat pagi, Kimi
Sayang! Rambut lo agak lepek hari ini, gue jepit biar badai ya," seru Gita
tanpa dosa, lalu langsung lari ke bangkunya di barisan paling belakang sambil
tertawa renyah.
Kimi hanya bisa menghela napas panjang, melepas jepit rambut itu dengan ujung jarinya seolah benda itu mengandung zat beracun, dan meletakkannya di sudut meja. Ia tidak marah, tidak juga membalas. Dan reaksi pasrah itulah yang justru membuat Gita ketagihan. Bagi Gita, menjahili Kimi adalah asupan energi dan kesenangan sehari-harinya.
### Bab 2: Koleksi
Kejahilan Gita
Daftar keisengan Gita
pada Kimi sudah setebal kamus bahasa Inggris di perpustakaan.
* *Penyusupan Pembatas
Buku:* Gita hobi mengganti pembatas buku serius milik Kimi dengan foto wajah
kocak dirinya sendiri yang sedang menjulingkan mata. Kimi sering kali terlonjak
kaget di tengah keheningan perpustakaan saat membuka halaman baru.
* *Teror Tip-Ex:* Gita
pernah menukar semua isi pulpen hitam Kimi dengan pulpen gel berwarna-warni
yang ada glitternya. Alhasil, Kimi harus mencatat rumus fisika yang rumit
dengan warna pink menyala.
* *Camilan Jebakan:* Saat
istirahat, Gita sering meletakkan biskuit di meja Kimi. Namun, krim putih di
tengah biskuit itu sudah diganti oleh Gita menggunakan pasta gigi rasa mentol
super pedas.
"Gita, lo bisa nggak
sih sehari aja nggak ganggu Kimi? Kasihan tahu, dia lagi mau fokus ambis masuk
PTN," tegur sahabat Gita suatu hari di kantin.
Gita yang sedang sibuk mengikat tali sepatu Kimi ke kaki meja (saat cowok itu sedang fokus membaca sambil makan) hanya menyengir kuda. "Nggak bisa. Kalau sehari nggak denger Kimi ngehela napas pasrah gara-gara gue, idup gue rasanya hambar. Lagian dia nggak marah, kok!"
### Bab 3: Di Balik
Kacamata Kimi
Semua orang mengira Kimi
adalah korban penindasan yang menyedihkan, namun sebenarnya tidak begitu. Kimi
bukannya tidak bisa melawan. Sebagai cowok dengan IQ di atas rata-rata, ia bisa
saja menjebak Gita balik dengan rumus atau trik yang lebih cerdas.
Namun, ada sebuah rahasia
kecil di balik lensa kacamata tebal Kimi.
Kimi sebenarnya menikmati
kehadiran Gita. Di dalam dunianya yang hitam-putih, kaku, dan penuh dengan
tekanan angka-angka, Gita adalah satu-satunya elemen tak terduga yang membawa
warna. Setiap kali Gita menjahilinya, jantung Kimi sebenarnya berdegup sedikit
lebih cepat—bukan karena kesal, melainkan karena ia tahu, di tengah ramainya
sekolah, perhatian gadis seceria Gita selalu tertuju padanya.
Suatu hari, Kimi sengaja membiarkan dirinya berjalan ke arah laboratorium dengan sebuah kertas bertuliskan "Senggol Dong!" yang ditempel Gita di punggungnya. Kimi tahu kertas itu ada di sana, tapi ia membiarkannya saja hanya karena ia ingin mendengar tawa puas Gita dari kejauhan.
### Bab 4: Saat
Keheningan Terasa Asing
Puncaknya terjadi ketika
Gita mendadak tidak masuk sekolah selama tiga hari berturut-turut karena demam
berdarah.
Hari pertama, Kimi merasa
mejanya sangat rapi. Tidak ada jepit rambut pink, tidak ada coretan gambar
katak di buku catatannya, dan tidak ada suara tawa melengking yang biasa
mengejeknya.
Hari kedua, Kimi mulai
sering menatap ke arah pintu kelas setiap kali bel berbunyi, berharap melihat
sosok kuncir kuda Gita muncul sambil membawa ide usil baru. Namun pintu itu
tetap sepi.
Hari ketiga, Kimi tidak
bisa fokus membaca bukunya. Dunia kutu bukunya yang biasa ia puja, mendadak
terasa begitu sunyi, membosankan, dan asing tanpa gangguan dari si gadis paling
iseng di sekolah.
Kimi menutup bukunya,
menatap tempat pensilnya yang tertata rapi, lalu berbisik pelan pada diri
sendiri, "Sekolah... ternyata sepi banget ya kalau nggak ada lo,
Git."
Sambil tersenyum tipis,
Kimi membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat—pesan pertama yang
pernah ia kirimkan ke nomor gadis itu: “Gita, cepet sembuh. Tugas matematika lo
numpuk, nggak ada yang bisa lo contek kalau lo bolos terus. Dan... meja gue
terlalu rapi, gue nggak suka.”
Pesan singkat dari Kimi
sukses membuat suhu tubuh Gita yang mulai membaik karena demam, mendadak naik
lagi—tapi kali ini bukan karena virus, melainkan karena efek kejut di dadanya.
Selama ini, Gita mengira hubungan mereka murni hubungan antara "predator usil" dan "korban pasrah". Kimi yang mulai memberikan perhatian secara terang-terangan membuat sirkuit di otak Gita mendadak korsleting. Seorang Gita yang biasanya punya seribu akal untuk menjahili orang, kini mendadak kehilangan kata-kata.
### Bab 5: Perubahan yang
Canggung
Hari pertama Gita kembali
masuk sekolah, suasananya langsung terasa berbeda. Begitu Gita berjalan
melewati meja Kimi, Kimi mendongak. Di balik kacamata tebalnya, tatapan Kimi
tampak lega, bahkan cowok itu sempat menggeser sedikit buku tebalnya untuk memberikan
ruang.
"Gita, lo udah
beneran sembuh? Ini catetan matematika selama lo—"
"Eh? Ah, iya! Udah
sembuh kok! Makasih ya!" potong Gita dengan suara yang terlalu melengking
karena gugup.
Bukannya mengambil
catatan itu atau menempelkan permen karet di atasnya seperti biasa, Gita justru
langsung ngibrit berlari ke bangkunya di pojok belakang. Sepanjang hari itu,
Gita bertingkah aneh. Setiap kali Kimi menoleh ke belakang atau tidak sengaja berpapasan
di koridor, Gita akan langsung memutar arah, berpura-pura sibuk mengikat tali
sepatu, atau mendadak mengobrol heboh dengan murid lain.
Gita merasa aneh. Ada rasa canggung yang luar biasa setiap kali mengingat pesan Kimi. Rasa "senang" yang dulu ia rasakan saat menjahili Kimi kini berganti menjadi rasa deg-degan yang membuat perutnya mules. Karena tidak tahu harus bersikap bagaimana, Gita mengambil keputusan drastis: *menjauhi Kimi.*
### Bab 6: Meja yang
Terlalu Bersih
Satu minggu berlalu tanpa
ada satu pun gangguan dari Gita.
* Tidak ada pembatas buku
bergambar muka jelek.
* Tidak ada pulpen gliter
merah muda di antara koleksi pulpen hitam Kimi.
* Tidak ada tali sepatu
yang diikat ke kaki meja.
Meja Kimi kembali menjadi
tempat paling rapi, bersih, dan steril di seluruh kelas. Namun, alih-alih
merasa tenang untuk mengejar target PTN-nya, Kimi justru merasa makin
terganggu. Penolakan halus dan jarak yang bentangkan Gita membuat Kimi sadar
bahwa ia telah melangkah terlalu cepat hingga membuat gadis itu ketakutan.
"Kimi, lo ada
masalah sama Gita?" tanya teman sebangku Kimi suatu siang. "Gue
liat-liat, sekarang Gita kalau lewat barisan depan kayak lagi lewat kuburan.
Tegang banget."
Kimi tidak menjawab. Ia hanya menatap sebuah pulpen gel bergliter warna pink yang sengaja ia beli beberapa hari lalu—berniat memberikannya pada Gita agar gadis itu tidak perlu menukar pulpennya lagi. Namun pulpen itu kini hanya tergeletak mati di dalam tasnya.
### Bab 7: Konfrontasi di
Laboratorium Kimia
Sore itu, kelas mereka
mendapatkan tugas kelompok acak untuk praktikum kimia. Dan seperti sudah diatur
oleh takdir sekolah, nama Kimi dan Gita keluar dalam satu kelompok yang sama,
hanya berdua.
Suasana di meja
laboratorium lantai tiga itu terasa sangat kaku. Gita sibuk menatap tabung
reaksi dengan pandangan super serius, seolah-olah benda kaca itu adalah hal
paling menarik di dunia, demi menghindari kontak mata dengan Kimi.
"Git, lo bisa tuang
larutan ini?" tanya Kimi sambil menyodorkan botol cairan.
"Oh, oke.
Sini," jawab Gita singkat, tanpa menoleh. Namun karena tangannya gemetar
akibat terlalu canggung, botol itu hampir saja slip dari jarinya.
Grep.
Tangan Kimi yang lebih
besar dengan sigap menahan botol itu, sekaligus tidak sengaja menggenggam
jemari Gita. Kulit mereka bersentuhan, dan Gita rasanya ingin menghilang dari
bumi saat itu juga. Ia buru-buru menarik tangannya dengan muka yang sudah memerah
sampai ke telinga.
"Gita, stop,"
ucap Kimi, suaranya rendah namun terdengar tegas di ruang laboratorium yang
mulai sepi. Kimi meletakkan botol kimia itu ke meja, lalu melepas kacamatanya,
menatap Gita langsung dengan mata telanjang.
"Kenapa lo
menjauh?" tanya Kimi langsung pada intinya.
Gita menelan ludah,
matanya bergerak panik ke segala arah. "Siapa yang menjauh? Nggak kok! Gue
cuma... gue cuma lagi tobat aja nggak mau ganggu lo belajar. Bagus kan? Lo jadi
bisa fokus ambis."
"Gue nggak butuh
fokus kalau fokusnya bikin lo kayak orang asing," balas Kimi telak.
Kimi melangkah satu
tindakan lebih dekat, membuat Gita terpaksa menyandarkan punggungnya ke meja
lab. "Gue sengaja biarin lo jailin gue selama ini, Git, karena gue suka.
Gue suka setiap kali lo ada di sekitar gue. Jadi tolong, jangan canggung kayak gini.
Gue lebih milih meja gue berantakan dan buku gue dicoret-coret sama lo,
daripada lo diem dan jauhin gue kayak sekarang."
Gita terpaku, mulutnya sedikit terbuka. Semua sifat usil dan lidah tajamnya mendadak lumpuh total di hadapan pengakuan jujur dari si cowok kutu buku. Di ruang laboratorium yang berbau zat kimia itu, Gita akhirnya sadar, ia tidak bisa lagi kabur dari fakta bahwa Kimi si kutu buku telah berhasil membalikkan keadaan dan menjebak hatinya sendiri.
### Bab 8: Perang Batin
sang Gadis Iseng
Penyesalan selalu datang
belakangan, dan itulah yang dirasakan Kimi malam setelah insiden di
laboratorium kimia. Di dalam kamarnya yang penuh buku, ia mondar-mandir dengan
perasaan campur aduk. Ia merutuki mulutnya yang mendadak terlalu berani.
“Gue terlalu nekat. Sifat
blak-blakan gue pasti malah bikin Gita makin merasa tertekan dan menjauh,”
batin Kimi sambil memijat pelipisnya.
Sebagai cowok yang
terbiasa menggunakan logika, Kimi mengambil keputusan untuk menarik diri. Ia
sadar ia perlu mengendalikan perasaannya agar tidak merusak kenyamanan Gita.
Dan cara yang ia pilih adalah dengan membuka diri untuk bergaul dengan orang
lain. Pilihan itu jatuh pada *Zivana*.
Zivana adalah siswi
berprestasi dari kelas sebelah, anggota klub debat yang memiliki minat yang
sama dengan Kimi dalam hal akademik. Mereka berdua sering terlihat bersama di
perpustakaan, mendiskusikan materi ujian, atau berjalan beriringan di koridor
sambil membawa tumpukan buku silabus. Bagi Kimi, Zivana adalah "pengalih
perhatian" yang aman untuk menetralkan hatinya yang telanjur acak-acakan
karena Gita.
Melihat pemandangan baru
itu setiap hari, Gita justru merasa otaknya makin berputar bagai wahana kincir
angin. Hatinya mendadak menjadi medan perang ego yang sangat melelahkan.
Di satu sisi, ada rasa
lega yang besar. Kimi tidak lagi menatapnya dengan pandangan intens seperti di
laboratorium. Tidak ada lagi ucapan-ucapan tidak terduga yang membuat
jantungnya cenat-cenut seolah habis lari maraton. Gita merasa dunianya kembali
aman, bebas dari rasa canggung yang sempat membuatnya salah tingkah
berminggu-minggu.
Namun di sisi lain, ada
ruang kosong di hatinya yang mendadak terasa perih saat melihat Kimi tersenyum
tipis mendengarkan penjelasan Zivana di selasar sekolah.
"Gita, lo liat deh
Kimi sama Zivana. Cocok banget ya? Sama-sama pinter, serasi banget kalau
ngobrol," komentar teman sebangku Gita sambil menunjuk ke arah jendela
luar.
Gita yang sedang mengunyah keripik singkong mendadak berhenti. Keripik itu terasa hambar di lidahnya. Dadanya terasa sesak, ada letupan emosi panas yang asing yang mencubit hatinya. Gue cemburu? Nggak mungkin! Masa gue cemburu sama cowok kutu buku yang biasanya gue tempelin kertas 'Senggol Dong' di punggungnya?! sangkal Gita dalam hati, mencoba membantah kenyataan.
### Bab 9: Kehilangan Hak
Istimewa
Kebimbangan Gita memuncak
saat jam istirahat kedua. Ia berniat mengembalikan pulpen hitam milik Kimi yang
tidak sengaja terbawa di tasnya minggu lalu. Saat berjalan ke kelas Kimi,
langkahnya terhenti di dekat pintu.
Di sana, Kimi sedang
duduk bersama Zivana. Yang membuat hati Gita semakin mencelos adalah melihat
sebuah jepit rambut berwarna biru bertengger di rambut Kimi—sebuah keisengan
dari Zivana yang tampaknya disambut Kimi dengan tawa kecil, tanpa penolakan.
Gita meremas pulpen di
tangannya. Dahulu, hak untuk mengacak-acak rambut Kimi, menukar pulpennya, dan
membuat cowok itu menghela napas pasrah adalah "hak istimewa" milik
Gita seorang. Kini, posisi itu telah digantikan oleh gadis lain yang jauh lebih
pintar dan anggun darinya.
Gita berbalik arah dengan
langkah gontai, tidak jadi mengembalikan pulpen tersebut. Ia duduk di tribun
lapangan basket yang sepi, menatap lapangan dengan pandangan kosong.
"Lo maunya apa sih, Git?" tanyanya pada diri sendiri dengan nada frustrasi. "Pas dia deketin, lo kabur karena takut deg-degan. Pas dia jauh dan sama cewek lain, lo malah ngerasa kayak kehilangan separuh napas lo."
### Bab 10: Jebakan yang
Salah Alamat
Keesokan harinya, sifat
usil Gita kembali muncul, namun kali ini digerakkan oleh rasa cemburu yang
terpendam. Ia tidak bisa lagi menahan diri melihat Kimi dan Zivana yang makin
lengket.
Gita menyelinap ke meja
Kimi saat kelas kosong dan menaruh sebuah kotak jus instan di atas meja cowok
itu. Di dalam sedotannya, Gita sudah memasukkan sejumput bubuk cabai
kering—sebuah kejahilan klasik untuk membalas rasa kesalnya.
Namun, rencana itu
berantakan. Saat jam masuk, justru Zivana-lah yang mengambil kotak jus tersebut
karena mengira itu adalah pemberian dari teman kelas untuk mereka.
"Eh, jusnya buat aku
ya, Kim? Kebetulan aku haus banget," ucap Zivana sambil memegang kotak
tersebut, bersiap menusukkan sedotannya.
Gita yang mengintip dari
pintu belakang langsung panik. Ia tidak berniat mencelakai Zivana. Sebelum
Zivana sempat meminumnya, sebuah tangan dengan cepat merebut kotak jus itu.
"Jangan diminum,
Ziv," ujar Kimi tegas.
Kimi menoleh ke arah
pintu belakang, tepat ke arah mata Gita yang sedang terbelalak panik. Kimi
tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sudah lama tidak Gita lihat. Kimi tahu
persis ini adalah tanda tangan kejahilan siapa. Hanya ada satu orang di sekolah
ini yang hobi menaruh jebakan di mejanya.
Kimi meletakkan jus itu
kembali, lalu berdiri dan berjalan keluar kelas, melewati Gita yang masih
mematung di dekat pintu. Saat berpapasan, Kimi berbisik sangat pelan, namun
cukup untuk membuat seluruh tubuh Gita meremang:
"Kalau lo cemburu
dan pengen dapet perhatian gue lagi, bilang aja, Git. Nggak usah pake racun
cabai ke orang lain. Gue selalu nunggu lo balik jailin gue."
Gita terpaku di
tempatnya, wajahnya memanas hebat. Usaha Kimi untuk mengendalikan perasaan
menggunakan Zivana ternyata gagal total, karena pada akhirnya, satu tindakan
iseng dari Gita membuktikan bahwa radar hati Kimi tetap hanya terkunci pada
satu gadis pengacau di hidupnya.
Pesan terselubung di
ambang pintu kelas itu mengubah segalanya. Bagi Kimi, satu tindakan iseng dari
Gita—meskipun nyaris salah sasaran—adalah konfirmasi nyata bahwa gadis pengacau
itu masih peduli padanya. Hati Kimi membuncah; ia tidak bisa membohongi logikanya
lagi bahwa Gita tetap berada di urutan nomor satu, tak tergantikan oleh siapa
pun.
Namun, kegembiraan itu segera disusul oleh awan mendung dilema yang baru. Kimi kini terjebak di antara dua hati.
### Bab 11: Ketakutan di
Balik Meja Perpustakaan
Sore itu di perpustakaan,
suasana terasa sangat sunyi. Kimi duduk berhadapan dengan Zivana, dikelilingi
oleh tumpukan buku persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Namun, fokus Kimi
pecah. Matanya menatap barisan angka di buku kalkulus, tetapi pikirannya tertuju
pada gadis berkuncir kuda yang mungkin saat ini sedang merencanakan keisengan
lain di kelas.
Kimi melirik Zivana.
Gadis itu sedang mencatat dengan tekun, sesekali merapikan rambutnya sambil
tersenyum tipis ke arah Kimi saat mereka tidak sengaja bertatapan.
Secara teknis, memang
belum ada komitmen di antara mereka. Kimi tidak pernah menembak Zivana, dan
Zivana pun tidak pernah menyatakan cinta. Hubungan mereka murni dimulai sebagai
teman belajar. Namun, Kimi bukan cowok yang peka-peka amat sampai tidak bisa
melihat perubahan sikap Zivana.
Sorot mata Zivana saat
menatapnya, perhatian-perhatian kecil seperti membawakan bekal buah potong, dan
jepit rambut biru yang Zivana pasang di rambut Kimi tempo hari—semua itu adalah
sinyal kuat. Kimi mulai didera ketakutan yang besar. Ia takut kedekatan yang ia
ciptakan sebagai "pelarian" justru telah menumbuhkan harapan palsu di
hati Zivana. Kimi tidak ingin menjadi cowok berengsek yang menyakiti gadis
baik-baik seperti Zivana demi ego pribadinya.
"Kimi, kamu melamun?
Bagian rumus yang ini salah tulis, loh," tegor Zivana lembut, jarinya
menunjuk ke buku catatan Kimi.
Kimi terkesiap. "Ah,
iya. Maaf, Ziv. Pikiran gue agak pecah hari ini."
Zivana menatap Kimi
dengan pandangan teduh, namun ada kilat kecemasan di matanya. "Belakangan
ini kamu sering nggak fokus. Ada... sesuatu yang lagi kamu pikirin? Atau ada
orang lain yang lagi mengganggu pikiran kamu?"
Pertanyaan Zivana yang terlalu tepat sasaran itu membuat lidah Kimi mendadak kelu.
### Bab 12: Detektif Gita
dan Rasa Penasaran
Di tempat lain, Gita
sedang berguling-guling di kasur kamarnya dengan frustrasi. Buku sketsa
pemberian Eugene yang berisi gambar wajahnya sendiri tergeletak di samping
bantal, namun pikirannya justru terbang ke arah Kimi dan Zivana.
Kalimat Kimi yang
berbunyi, "Kalau lo cemburu... gue selalu nunggu lo balik jailin
gue," terus berputar-putar di otaknya seperti lagu rusak.
"Dia bilang gitu,
tapi tiap hari nempelnya sama Zivana! Maunya apa sih?!" gerutu Gita pada
bantal gulingnya.
Gita mulai bertingkah
seperti detektif. Ia mengingat-ingat kembali setiap interaksi antara Kimi dan
Zivana. Apakah mereka sudah jadian? Apakah mereka hanya sekadar teman ambis
belajar? Mengapa Kimi membiarkan Zivana menjahilinya sementara dulu Kimi bilang
hanya suka dijahili oleh Gita?
Rasa
penasaran itu perlahan-lahan menyiksa Gita. Ia sadar, ia tidak bisa
terus-menerus bersikap abu-abu. Ia harus tahu status hubungan mereka, karena
kenyataan bahwa Kimi mungkin sudah dimiliki oleh orang lain membuat dadanya
terasa sangat sesak—sebuah perasaan yang jauh lebih menyakitkan daripada
canggung atau deg-degan karena jatuh cinta.
### Bab 13: Pertemuan Tiga Sudut
Keesokan harinya di
koridor sekolah, takdir kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang
canggung. Gita sedang berjalan membawa sekotak donat—kali ini murni donat asli
tanpa jebakan cabai—berniat memberikannya kepada Kimi sebagai bentuk
"permintaan maaf" sekaligus cara untuk memancing obrolan.
Namun, di depan loker, ia
melihat Kimi dan Zivana baru saja keluar dari ruang guru.
Langkah Gita terhenti.
Kimi dan Zivana pun menghentikan langkah mereka saat melihat Gita berdiri di
sana memegang kotak donat. Atmosfer di koridor sepi itu mendadak mendingin,
menciptakan ketegangan yang tidak kasat mata di antara ketiga remaja tersebut.
Zivana melirik kotak
donat di tangan Gita, lalu beralih menatap Kimi, seolah menyadari sesuatu.
Sementara itu, Kimi berdiri di tengah-tengah, menatap Gita dengan pandangan
penuh harap namun juga didera rasa bersalah saat melirik Zivana di sampingnya.
Gita menelan ludah.
Keberanian yang biasanya ia miliki saat menjahili orang mendadak menguap. Ia
menatap Kimi, lalu menatap Zivana, dan di dalam hatinya sebuah pertanyaan besar
akhirnya menuntut sebuah jawaban: Siapa sebenarnya yang berhak berdiri di samping
lo, Kim? Gue yang hobi bikin idup lo berantakan, atau Zivana yang bisa bikin
masa depan lo tertata?
Hari-hari berlalu di SMA
Nusantara, namun waktu terasa berjalan melambat bagi Kimi dan Gita. Koridor
sekolah yang biasanya riuh kini terasa seperti labirin penuh teka-teki. Insiden
saling tatap di depan loker tempo hari meninggalkan kecanggungan yang semakin
mendalam, memicu perang batin di kepala mereka masing-masing.
### Bab 14: Sinyal yang Membingungkan
Bagi Kimi, setiap detik
yang ia habiskan bersama Zivana kini berubah menjadi sesi analisis yang
melelahkan. Zivana tidak pernah menuntut apa-apa, tetap menjadi teman belajar
yang menyenangkan dan tenang. Namun, perubahan-perubahan kecil dalam sikap
gadis itu justru membuat Kimi semakin bertanya-tanya.
Saat mereka berjalan di
koridor yang ramai, Zivana secara alami akan bergeser lebih dekat hingga lengan
mereka bersentuhan. Ketika Kimi berhasil memecahkan soal olimpiade yang rumit,
binar di mata Zivana memancarkan rasa bangga yang teramat dalam—jenis binar
yang biasanya hanya ditujukan untuk orang yang spesial. Bahkan, Zivana kini
mulai menghafal jadwal latihan simulasi Kimi dan selalu memastikan ada sebotol
air mineral dingin di mejanya sebelum Kimi meminta.
“Sebenarnya... siapa gue
di hati lo, Ziv?” batin Kimi setiap kali menerima perhatian itu.
Kimi terjebak dalam dilema moral. Rasa penasarannya diliputi ketakutan. Jika ia bertanya secara langsung, ia takut akan memperjelas perasaan Zivana yang mungkin saja memang sudah melangkah terlalu jauh, dan itu berarti ia harus menyakiti gadis baik itu karena hatinya tetap milik Gita. Namun jika ia diam saja, ia merasa seperti pengecut yang sedang memanfaatkan ketulusan orang lain.
Kerenn ceritanya bagus
BalasHapusceritanya baguss banget
BalasHapusKeren sekali, ceritanya sangat menarik dan cocok untuk anak² muda
BalasHapusBagus banget ceritanya, semua aspek dari cerita di tulis dengan baik dan sempurna, dan cerita ini sangat cocok bagi semua kalangan
BalasHapuswoy cerita nya bgs bngt jir
BalasHapus