Selasa, 19 Mei 2026

Dibalik Bingkai Kacamata (Bagian 2)

### Bab 15: Siksaan dalam Diam

Di seberang koridor, di barisan bangku belakang kelasnya, Gita mengalami siksaan yang berbeda namun tak kalah hebat. Rasa penasarannya terhadap hubungan Kimi dan Zivana sudah berada di ambang batas.

Gita yang biasanya menjadi mahkluk paling berisik di kelas, kini lebih sering menopang dagu sambil menatap kosong ke luar jendela. Keinginan untuk menjahili Kimi kembali membubung tinggi, namun setiap kali ia memegang penghapus atau kertas usil, bayangan wajah Zivana yang anggun dan pintar langsung melintas di pikirannya.

"Gue nggak punya hak lagi buat ngerusak harinya Kimi," bisik Gita pada diri sendiri, meremas kertas kosong di tangannya lalu melemparnya ke tempat sampah.

Gita merasa tersiksa karena posisinya yang serbabetah. Ia ingin maju dan bertanya langsung pada Kimi, "Lo sebenernya pacaran nggak sama Zivana?", tapi egonya menolak. Ia takut jawaban Kimi akan menghancurkan harapannya. Di sisi lain, ia juga tidak bisa kembali menjadi Gita yang cuek, karena hatinya telanjur terikat pada si cowok kutu buku. Rasa tidak tahu dan ketidakpastian ini perlahan mulai mengikis keceriaan yang menjadi ciri khas Gita.

### Bab 16: Dua Langkah yang Tertahan

Kimi dan Gita kini melalui hari-hari mereka dengan sebuah tanda tanya besar yang menggantung di atas kepala mereka. Komunikasi di antara mereka benar-benar terputus. Mereka bertingkah seolah kembali menjadi dua orang asing yang tidak sengaja berada di satu ruang kelas yang sama.

Kimi ingin kembali ke masa-masa di mana Gita selalu menjahilinya tanpa beban tetapi ia takut menyakiti Zivana dan takut Gita akan kabur lagi jika ia terlalu agresif. |

Gita ingin tahu kejelasan status Kimi agar ia bisa mengambil keputusan untuk maju atau mundur. Tetapi ia Takut mendapati kenyataan bahwa Kimi telah menemukan kebahagiaan yang lebih baik bersama Zivana.

Saat berpapasan di kelas, Kimi akan menatap Gita dengan pandangan yang seolah berkata, "Tolong ganggu gue lagi, Git," sementara mata Gita akan membalas dengan tatapan, "Jelasin ke gue tentang Zivana, Kim." Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menurunkan gengsi atau memulai pembicaraan. Mereka sama-sama tidak tahu harus bagaimana bertindak terhadap satu sama lain.

### Bab 17: Puncak Keheningan

Puncaknya terjadi saat pembagian rapor bayangan di hari Jumat sore. Kelas sudah kosong, dan sebagian besar murid sudah pulang untuk menikmati akhir pekan. Kimi masih duduk di bangkunya, merapikan buku-buku ke dalam tas dengan gerakan yang sangat lambat, sengaja mengulur waktu.

Di barisan belakang, Gita juga melakukan hal yang sama. Ia sengaja memperlambat gerakannya merapikan alat tulis, berharap Kimi akan berbalik dan mengajaknya bicara.

Suasana kelas begitu sunyi, hanya menyisakan suara deru angin dari luar jendela dan detak jam dinding sekolah. Jarak dari bangku depan Kimi ke bangku belakang Gita hanya berkisar beberapa meter, namun rasanya seperti membentang ribuan kilometer karena dinding tak kasat mata bernama kesalahpahaman dan tanda tanya.

Kimi akhirnya menyampirkan tasnya di bahu. Ia berdiri, lalu berbalik badan. Matanya langsung bertemu dengan mata Gita yang juga sedang menatapnya.

Keduanya terpaku. Di dalam keheningan kelas yang temaram sore itu, detak jantung mereka berdua seolah saling bersahutan, sama-sama menuntut jawaban atas misteri perasaan yang selama ini mereka sembunyikan di balik topeng keisengan dan buku-buku tebal.

Suasana kelas yang sepi itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Detak jam dinding seolah berdentang lebih keras di telinga Gita. Di dorong oleh rasa penasaran yang sudah berada di ubun-ubun dan tidak tertahankan lagi, Gita mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

Ia melangkah maju beberapa senti dari mejanya, menatap lurus ke dalam manik mata Kimi di balik lensa kacamatanya.

"Kim," panggil Gita, suaranya sedikit bergetar namun terdengar jelas di ruangan kosong itu. "Gue... gue nggak bisa kayak gini terus. Gue mau nanya satu hal sama lo."

Kimi menahan napas, ia membetulkan posisi tasnya yang mulai merosot. "Nanya apa, Git?"

"Lo... sebenernya ada hubungan apa sama Zivana? Apa lo berdua udah jadian?" tanya Gita tanpa aling-aling. Kalimat itu meluncur begitu saja, menyuarakan semua siksaan batin yang ia pendam berminggu-minggu ini.

Mendengar pertanyaan itu, Kimi mendadak kaku. Otaknya yang biasa encer memecahkan soal kalkulus serumit apa pun, mendadak lumpuh total. Kimi bingung harus menjawab apa. Jika ia bilang tidak ada hubungan apa-apa, fakta bahwa ia membiarkan Zivana sedekat itu akan membuat ucapannya terdengar seperti kebohongan. Namun jika ia bilang mereka dekat, ia takut Gita akan salah paham dan mengira hatinya telah berpindah.

Lidah Kimi kelu. Ia membuka mulutnya, mencoba merangkai kata. "Git, sebenernya gue sama Zivana itu..."

Srek.

Belum sempat sepatah kata pun terucap dari bibir Kimi, pintu geser kelas terbuka. Sosok Zivana muncul di ambang pintu dengan senyuman anggunnya yang khas, sambil menenteng tas ransel kecil.

"Kimi, maaf ya agak lama. Tadi aku harus balikin buku paket dulu ke perpustakaan," kata Zivana ceria, seolah tidak menyadari ketegangan hebat yang sedang terjadi di dalam kelas. Ia melirik ke arah Gita sebentar, memberikan senyum sopan, lalu kembali menatap Kimi. "Yuk, jalan sekarang? Kebetulan bus kita bentar lagi dateng."

Kimi menoleh ke arah Zivana, lalu kembali menatap Gita dengan panik. Situasi ini benar-benar membuatnya kikuk dan mati kutu. Di satu sisi, ia tidak enak membatalkan janji pulang bersama Zivana yang sudah disepakati sejak siang. Di sisi lain, ia tahu ia sedang meninggalkan bom waktu di hadapan Gita.

"Ah... iya, Ziv," jawab Kimi terbata-bata. Ia menatap Gita dengan tatapan penuh rasa bersalah, seolah memohon agar Gita mau menunggu penjelasannya nanti. "Git, gue... gue duluan ya."

Kimi akhirnya melangkah keluar kelas, menyusul Zivana yang sudah menunggunya di koridor. Suara langkah kaki mereka berdua perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Gita tetap berdiri mematung di tempatnya. Kotak donat yang ia pegang terasa menjadi sangat berat. Kepergian Kimi bersama Zivana di depan matanya sendiri seolah menjadi jawaban bisu yang justru membuat tanda tanya di kepala dan hatinya membengkak menjadi semakin besar, semakin liar, dan semakin menyakitkan.

### Bab 18: Labirin Ketakutan Sang Kutu Buku

Hari-hari berganti minggu, dan prediksi Kimi tentang "bom waktu" itu perlahan-lahan mulai mendekati detik-detik terakhirnya.

Bukannya menjauh setelah insiden di kelas sepi itu, keadaan justru memaksa Kimi untuk semakin dekat dengan Zivana. Mereka berdua terpilih sebagai perwakilan sekolah untuk kompetisi cerdas cermat tingkat provinsi. Jadwal bimbingan yang padat setelah jam sekolah membuat waktu Kimi hampir habis tersedot di dalam ruang multimedia bersama Zivana.

Kimi menyadari betul hal ini. Setiap kali Zivana mengusap peluh di dahinya dengan tisu, atau setiap kali mereka pulang larut malam berteman lampu jalanan, Kimi bisa merasakan detak bom itu semakin kencang. Cepat atau lambat, salah satu dari dua gadis ini akan terluka oleh sikap abu-abunya.

Malam-malam Kimi kini tidak lagi tenang. Di kamar yang biasanya hanya dipenuhi rumus dan teori, Kimi duduk di tepi kasur sambil menatap langit-langit. Logikanya yang biasa berjalan tajam kini buntu total oleh rasa takut yang luar biasa.

**Jika ia memilih maju ke arah Gita:* Ia harus menolak Zivana. Artinya, ia akan menghancurkan senyum tulus gadis baik yang selama ini selalu mendukungnya tanpa pamrih. Kimi tidak siap melihat air mata Zivana runtuh karena dirinya.

**Jika ia memilih bertahan bersama Zivana:* Ia harus merelakan Gita pergi selamanya. Membayangkan Gita benar-benar menghilang dari hidupnya, membayangkan tidak ada lagi tawa usil, jepit rambut pink, atau kertas-kertas ejekan di punggungnya, membuat dada Kimi terasa kosong dan hampa.

Namun, di atas semua itu, ketakutan terbesar Kimi adalah keserakahan hatinya sendiri. Ia sadar, sikap ragu-ragu dan penakutnya ini bisa membuat kedua gadis itu muak.

“Kalau gue terus-terusan kayak gini, pada akhirnya... gue bakal kehilangan keduanya,” bisik Kimi frustrasi, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya.

Ia takut hari itu akan tiba—hari di mana Gita pergi karena lelah digantungkan oleh ketidakpastian, dan Zivana pergi karena sadar bahwa selama ini ia hanya mendiami tubuh cowok yang hatinya terkunci untuk orang lain.

### Bab 19: Tatapan Dari Kejauhan

Sementara itu di kelas, Gita benar-benar telah bertransformasi. Ia bukan lagi gadis paling iseng di sekolah. Kursi belakang tempatnya duduk kini terasa seperti sebuah pulau pengasingan yang sunyi.

Gita sering memperhatikan Kimi dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Kimi dan Zivana terlihat begitu serasi saat mendiskusikan materi lomba di selasar sekolah. Setiap kali melihat itu, Gita selalu memegang pulpen hitam milik Kimi yang sengaja belum ia kembalikan. Pulpen itu menjadi satu-satunya benda yang membuktikan bahwa mereka pernah punya cerita yang dekat.

Gita tidak lagi bertanya, tidak lagi menuntut jawaban seperti sore itu di kelas sepi. Diamnya Gita justru menjadi alarm paling berbahaya bagi Kimi. Gita sedang bersiap untuk menyerah, sementara Kimi masih membeku di persimpangan jalan, menggenggam ketakutannya sendiri di tengah detik bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Ketidakpastian yang menggantung akhirnya membuat Gita tidak tahan lagi. Ia tidak bisa terus-menerus menebak isi kepala Kimi, ataupun mengintip kedekatan cowok itu dengan Zivana dari kejauhan. Baginya, mendingan tahu kenyataan pahit sekalian daripada terus-terusan tersiksa oleh harapan yang tidak pasti.

Suatu sore, saat Kimi sedang ke kamar mandi di tengah sesi bimbingan cerdas cermat, Gita melihat Zivana sedang duduk sendirian di bangku taman dekat ruang multimedia. Dengan langkah kaki yang terasa berat namun mantap, Gita memberanikan diri untuk menghampirinya.

### Bab 20: Keberanian di Taman Sekolah

Zivana mendongak ketika bayangan Gita menutupi sinar matahari sore yang menerpanya. Ia tampak terkejut, namun dengan cepat senyum anggunnya kembali mengembang.

"Eh, Gita? Ada apa?" tanya Zivana ramah.

Gita menarik napas dalam-dalam, meremas ujung rok abu-abunya untuk meredakan gemetar di tangannya. Ia tidak mau lagi berbasa-basi.

"Ziv, sorry kalau gue lancang," ujar Gita, suaranya terdengar serius, sangat berbeda dengan pembawaannya yang biasanya jenaka. "Gue cuma mau nanya satu hal. Dan gue butuh jawaban jujur dari lo. Sebenarnya... apa hubungan lo sama Kimi?"

Suasana di taman itu mendadak hening. Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Zivana. Namun, alih-alih marah, tersinggung, atau bersikap defensif, Zivana justru hanya tersenyum tipis. Sorot matanya tampak begitu dewasa, seolah ia sudah lama tahu bahwa momen konfrontasi ini pasti akan datang.

Zivana menutup buku catatannya, lalu menatap Gita dengan lekat.

"Gita, sejujurnya, di antara aku dan Kimi belum ada komitmen apa pun," jawab Zivana dengan suara yang sangat tenang. "Kami memang dekat, dan aku nggak akan bohong kalau aku punya perasaan lebih ke dia. Tapi aku juga nggak buta, Git. Aku tahu siapa yang selama ini ada di pikiran Kimi, bahkan saat dia lagi duduk di depan aku."

Gita tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengar kejujuran Zivana.

Zivana berdiri, lalu melangkah mendekati Gita. Ia menepuk pundak Gita pelan dengan penuh simpati. "Kalau kamu emang bener-bener suka sama Kimi, tunjukin ke dia, Git. Jangan malah menjauh atau cuma bisa diam kayak sekarang. Biar Kimi yang milih dan mutusin secara jantan, siapa yang sebenarnya dia mau untuk jalan di samping dia."

### Bab 21: Bola di Tangan Kimi

Ucapan Zivana seperti sebuah hantaman keras yang menyadarkan Gita. Selama ini, ego dan rasa takutnya telah membuatnya memilih untuk mundur dan berasumsi sendiri. Zivana, dengan segala keanggunannya, justru memberikan tantangan terbuka yang sangat adil. Tidak ada permusuhan, tidak ada drama perebutan yang kekanak-kanakan.

Sore itu juga, saat Kimi baru saja keluar dari ruang multimedia setelah bimbingan selesai, ia terkejut melihat Gita sudah berdiri di dekat tangga koridor, menunggunya. Di samping Kimi, Zivana berjalan melewati mereka sambil memberikan tatapan penuh arti kepada Kimi, seolah berkata, “Selesaikan ini sekarang.”

Kimi menelan ludah, menatap Gita dengan jantung yang berdegup kencang. "Gita? Lo... belum pulang?"

Gita melangkah maju, menatap lurus ke dalam manik mata Kimi. Ia mengeluarkan pulpen hitam milik Kimi dari dalam saku seragamnya, lalu meraih tangan Kimi dan meletakkan pulpen itu di telapak tangan cowok itu.

"Gue ke sini buat balikin pulpen lo, Kim. Dan buat bilang sesuatu yang harusnya udah gue bilang dari dulu," ucap Gita, matanya berbinar penuh tekad. "Gue suka sama lo. Gue suka sama lo sejak gue selalu jailin lo tiap hari. Dan sekarang gue nggak mau kabur lagi."

Kimi terpaku, tangannya yang menggenggam pulpen mendadak kaku.

"Gue udah ngobrol sama Zivana," lanjut Gita, suaranya melembut namun terdengar tegas. "Sekarang, bolanya ada di tangan lo, Kim. Bom waktunya udah selesai. Lo nggak bisa terus-terusan diam karena takut kehilangan dua-duanya. Sekarang, lo harus pilih... siapa yang lo mau ada di hidup lo?"

Tanda tanya besar yang selama ini menyiksa mereka akhirnya pecah menjadi sebuah pilihan nyata. Kimi kini berdiri di persimpangan jalan terdalam di hidupnya, menatap pulpen hitam di tangannya, sadar bahwa detik ini juga, ia harus melepaskan salah satu dari mereka demi masa depan hatinya.

Genggaman pulpen hitam di tangan Kimi terasa seberat bongkahan batu. Tantangan terbuka dari Gita—yang didukung oleh kedewasaan Zivana—membuat malam-malam Kimi selanjutnya dilewati tanpa tidur. Baginya, menyusun pembuktian rumus matematika paling rumit di dunia masih memiliki pola yang pasti. Namun, mengurai benang kusut di hatinya sendiri? Benar-benar tidak ada rumusnya.

Tiga hari setelah sore itu, hujan deras mengguyur kota sejak siang. Kimi berjalan pulang sendirian dari ruang bimbingan dengan payung hitam besarnya. Kepalanya masih dipenuhi bayangan wajah dua gadis yang menuntut ketegasannya.

Sampai akhirnya, langkah kaki Kimi terhenti di dekat halte bus pinggir jalan.

### Bab 22: Di Bawah Rintik yang Sama

Di sana, di bawah kanopi pertokoan yang sempit dan bocor, berdiri seorang gadis yang sangat ia kenal. *Gita.*

Gita sedang mendekap tas sekolahnya erat-erat agar tidak basah. Rambut kuncir kudanya yang biasanya bergoyang ceria kini tampak lepek terkena cipratan air hujan. Kedua tangannya menggosok lengan seragamnya, mencoba menghalau rasa dingin yang menusuk. Gadis paling usil di sekolah itu tampak begitu rapuh dan kecil di tengah badai.

Melihat pemandangan itu, logika Kimi mendadak berhenti bekerja. Ketakutan akan menyakiti Zivana, gengsi, dan semua analisis rumit di kepalanya menguap begitu saja. Yang tersisa hanyalah naluri purba untuk melindungi.

Kimi melangkah lebar menembus hujan, lalu mengarahkan payung hitamnya ke atas kepala Gita.

Gita terlonjak kaget saat curahan air hujan yang tadinya mengenai ujung sepatunya mendadak terhalang. Ia mendongak, dan matanya langsung bertemu dengan kacamata Kimi yang sedikit berembun karena hawa dingin.

"K-Kimi?" bisik Gita, suaranya sedikit bergetar karena kedinginan sekaligus terkejut.

### Bab 23: Kejujuran yang Hanyut bersama Hujan

Kimi tidak menjawab. Ia justru mendekatkan payungnya, memastikan seluruh tubuh Gita terlindungi dari air hujan, meskipun akibatnya bahu sebelah kirinya sendiri mulai basah kuyup.

"Kenapa nggak nelepon jemputan? Kenapa nggak nunggu di dalam sekolah?" tanya Kimi, nadanya terdengar cemas, hampir seperti omelan.

Gita menggigit bibir bawahnya, menatap ujung sepatu Kimi. "Ponsel gue mati. Lagian... gue sengaja mau pulang cepet biar nggak perlu papasan sama lo atau Zivana di sekolah. Gue butuh waktu buat siap-siap denger penolakan lo, Kim."

Mendengar ucapan pasrah dari gadis yang biasanya selalu tertawa lepas saat menjahilinya, hati Kimi seperti diremas. Di sinilah titik baliknya. Di tengah riuh suara hujan yang menghantam payung dan jalanan, Kimi tersadar akan satu hal yang selama ini ia sangkal karena ketakutan.

Saat bersama Zivana, Kimi merasa tertantang, dihargai, dan masa depannya terasa terencana dengan baik. Namun, hanya saat bersama Gita—gadis pengacau yang sedang kedinginan di depannya ini—Kimi merasa hidup. Ketakutan terbesarnya bukanlah kehilangan keduanya, melainkan melihat mata jenaka Gita meredup dan berubah menjadi asing baginya.

Kimi menurunkan sedikit payungnya, mempersempit jarak di antara mereka hingga Gita bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

"Gue udah punya jawabannya, Git," ucap Kimi, suaranya terdengar sangat dalam dan mantap di antara deru hujan.

Gita menahan napas, menatap mata Kimi dengan cemas.

"Menyelesaikan soal olimpiade itu gampang, karena gue cuma perlu nyari jawaban yang paling logis. Tapi milih lo... itu bukan soal logika," Kimi tersenyum tipis, sebuah senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan. "Milih lo itu karena hati gue emang nggak pernah mau jalan ke arah orang lain. Gue mau meja gue berantakan lagi, Git. Gue mau idup gue diacak-acak lagi sama lo. Gue... milih lo."

### Bab 24: Hati yang Telah Menemukan Rumah

Air mata yang sejak tadi ditahan Gita akhirnya luruh, menyatu dengan sisa-sisa cipratan air hujan di pipinya. Rasa cemas, cemburu, dan tersiksa yang ia rasakan berminggu-minggu ini langsung sirna digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya.

Gita tersenyum, senyuman badai yang sangat Kimi rindukan. Tanpa memedulikan baju Kimi yang basah, Gita maju satu langkah dan memeluk pinggang cowok kutu buku itu dengan erat di bawah perlindungan payung hitam mereka.

"Dasar kutu buku lambat," bisik Gita di dada Kimi, tawanya yang renyah akhirnya kembali terdengar. "Lama banget sih mikirnya."

Kimi terkekeh pelan, membalas pelukan Gita dengan satu tangannya yang bebas, mendekapnya erat seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi. Pertemuan tidak sengaja di pinggir jalan ini telah menghanyutkan semua keraguan.

Keesokan harinya di sekolah, Kimi menemui Zivana di perpustakaan. Dengan jantan dan penuh rasa hormat, Kimi mengutarakan keputusannya. Zivana, dengan kedewasaan yang luar biasa, hanya tersenyum getir namun mengangguk paham. Ia menghargai kejujuran Kimi yang tidak lagi menggantungkan perasaannya.

Bom waktu itu akhirnya meledak, namun tidak menghancurkan segalanya. Zivana tetap menjadi teman belajar yang ia hormati, sementara di barisan bangku belakang kelas, Gita si gadis paling iseng telah kembali. Bedanya, kali ini saat Gita menempelkan kertas usil di punggung Kimi, di bawahnya selalu ada tulisan kecil: "Milik Gita, jangan diganggu."


Minggu, 17 Mei 2026

Dibalik Bingkai Kacamata (Bagian 1)

 Bagi seisi SMA Nusantara, *Kimi* adalah sebuah kepastian: dia pasti duduk di bangku barisan depan, pasti memakai kacamata berbingkai tebal yang hobi merosot di hidungnya, dan pasti menenggelamkan wajahnya di dalam buku tebal, entah itu ensiklopedia atau kalkulus.

Namun bagi *Gita*, Kimi adalah sebuah wahana bermain gratis yang tersedia setiap hari dari pukul tujuh pagi sampai tiga sore.

Gita adalah definisi dari gadis paling usil, iseng, dan tidak bisa diam di sekolah. Baginya, melihat Kimi fokus belajar dengan tenang adalah sebuah "pelanggaran" yang harus segera ditertibkan dengan kejahilan-kejahilannya.

 

### Bab 1: Ritual Pagi yang Menyebalkan

Rutinitas pagi Kimi jarang sekali berubah. Begitu bel masuk berbunyi, ia akan menata alat tulisnya dengan rapi—penggaris sejajar dengan tempat pensil, dan buku catatan berada tepat di tengah meja.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sampai Gita berjalan melewati mejanya.

Pluk.

Sebuah jepit rambut gelembung berwarna merah muda mendarat tepat di atas rambut Kimi yang rapi.

"Selamat pagi, Kimi Sayang! Rambut lo agak lepek hari ini, gue jepit biar badai ya," seru Gita tanpa dosa, lalu langsung lari ke bangkunya di barisan paling belakang sambil tertawa renyah.

Kimi hanya bisa menghela napas panjang, melepas jepit rambut itu dengan ujung jarinya seolah benda itu mengandung zat beracun, dan meletakkannya di sudut meja. Ia tidak marah, tidak juga membalas. Dan reaksi pasrah itulah yang justru membuat Gita ketagihan. Bagi Gita, menjahili Kimi adalah asupan energi dan kesenangan sehari-harinya.

### Bab 2: Koleksi Kejahilan Gita

Daftar keisengan Gita pada Kimi sudah setebal kamus bahasa Inggris di perpustakaan.

* *Penyusupan Pembatas Buku:* Gita hobi mengganti pembatas buku serius milik Kimi dengan foto wajah kocak dirinya sendiri yang sedang menjulingkan mata. Kimi sering kali terlonjak kaget di tengah keheningan perpustakaan saat membuka halaman baru.

* *Teror Tip-Ex:* Gita pernah menukar semua isi pulpen hitam Kimi dengan pulpen gel berwarna-warni yang ada glitternya. Alhasil, Kimi harus mencatat rumus fisika yang rumit dengan warna pink menyala.

* *Camilan Jebakan:* Saat istirahat, Gita sering meletakkan biskuit di meja Kimi. Namun, krim putih di tengah biskuit itu sudah diganti oleh Gita menggunakan pasta gigi rasa mentol super pedas.

"Gita, lo bisa nggak sih sehari aja nggak ganggu Kimi? Kasihan tahu, dia lagi mau fokus ambis masuk PTN," tegur sahabat Gita suatu hari di kantin.

Gita yang sedang sibuk mengikat tali sepatu Kimi ke kaki meja (saat cowok itu sedang fokus membaca sambil makan) hanya menyengir kuda. "Nggak bisa. Kalau sehari nggak denger Kimi ngehela napas pasrah gara-gara gue, idup gue rasanya hambar. Lagian dia nggak marah, kok!"

### Bab 3: Di Balik Kacamata Kimi

Semua orang mengira Kimi adalah korban penindasan yang menyedihkan, namun sebenarnya tidak begitu. Kimi bukannya tidak bisa melawan. Sebagai cowok dengan IQ di atas rata-rata, ia bisa saja menjebak Gita balik dengan rumus atau trik yang lebih cerdas.

Namun, ada sebuah rahasia kecil di balik lensa kacamata tebal Kimi.

Kimi sebenarnya menikmati kehadiran Gita. Di dalam dunianya yang hitam-putih, kaku, dan penuh dengan tekanan angka-angka, Gita adalah satu-satunya elemen tak terduga yang membawa warna. Setiap kali Gita menjahilinya, jantung Kimi sebenarnya berdegup sedikit lebih cepat—bukan karena kesal, melainkan karena ia tahu, di tengah ramainya sekolah, perhatian gadis seceria Gita selalu tertuju padanya.

Suatu hari, Kimi sengaja membiarkan dirinya berjalan ke arah laboratorium dengan sebuah kertas bertuliskan "Senggol Dong!" yang ditempel Gita di punggungnya. Kimi tahu kertas itu ada di sana, tapi ia membiarkannya saja hanya karena ia ingin mendengar tawa puas Gita dari kejauhan.

### Bab 4: Saat Keheningan Terasa Asing

Puncaknya terjadi ketika Gita mendadak tidak masuk sekolah selama tiga hari berturut-turut karena demam berdarah.

Hari pertama, Kimi merasa mejanya sangat rapi. Tidak ada jepit rambut pink, tidak ada coretan gambar katak di buku catatannya, dan tidak ada suara tawa melengking yang biasa mengejeknya.

Hari kedua, Kimi mulai sering menatap ke arah pintu kelas setiap kali bel berbunyi, berharap melihat sosok kuncir kuda Gita muncul sambil membawa ide usil baru. Namun pintu itu tetap sepi.

Hari ketiga, Kimi tidak bisa fokus membaca bukunya. Dunia kutu bukunya yang biasa ia puja, mendadak terasa begitu sunyi, membosankan, dan asing tanpa gangguan dari si gadis paling iseng di sekolah.

Kimi menutup bukunya, menatap tempat pensilnya yang tertata rapi, lalu berbisik pelan pada diri sendiri, "Sekolah... ternyata sepi banget ya kalau nggak ada lo, Git."

Sambil tersenyum tipis, Kimi membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat—pesan pertama yang pernah ia kirimkan ke nomor gadis itu: “Gita, cepet sembuh. Tugas matematika lo numpuk, nggak ada yang bisa lo contek kalau lo bolos terus. Dan... meja gue terlalu rapi, gue nggak suka.”

Pesan singkat dari Kimi sukses membuat suhu tubuh Gita yang mulai membaik karena demam, mendadak naik lagi—tapi kali ini bukan karena virus, melainkan karena efek kejut di dadanya.

Selama ini, Gita mengira hubungan mereka murni hubungan antara "predator usil" dan "korban pasrah". Kimi yang mulai memberikan perhatian secara terang-terangan membuat sirkuit di otak Gita mendadak korsleting. Seorang Gita yang biasanya punya seribu akal untuk menjahili orang, kini mendadak kehilangan kata-kata.

### Bab 5: Perubahan yang Canggung

Hari pertama Gita kembali masuk sekolah, suasananya langsung terasa berbeda. Begitu Gita berjalan melewati meja Kimi, Kimi mendongak. Di balik kacamata tebalnya, tatapan Kimi tampak lega, bahkan cowok itu sempat menggeser sedikit buku tebalnya untuk memberikan ruang.

"Gita, lo udah beneran sembuh? Ini catetan matematika selama lo—"

"Eh? Ah, iya! Udah sembuh kok! Makasih ya!" potong Gita dengan suara yang terlalu melengking karena gugup.

Bukannya mengambil catatan itu atau menempelkan permen karet di atasnya seperti biasa, Gita justru langsung ngibrit berlari ke bangkunya di pojok belakang. Sepanjang hari itu, Gita bertingkah aneh. Setiap kali Kimi menoleh ke belakang atau tidak sengaja berpapasan di koridor, Gita akan langsung memutar arah, berpura-pura sibuk mengikat tali sepatu, atau mendadak mengobrol heboh dengan murid lain.

Gita merasa aneh. Ada rasa canggung yang luar biasa setiap kali mengingat pesan Kimi. Rasa "senang" yang dulu ia rasakan saat menjahili Kimi kini berganti menjadi rasa deg-degan yang membuat perutnya mules. Karena tidak tahu harus bersikap bagaimana, Gita mengambil keputusan drastis: *menjauhi Kimi.*

### Bab 6: Meja yang Terlalu Bersih

Satu minggu berlalu tanpa ada satu pun gangguan dari Gita.

* Tidak ada pembatas buku bergambar muka jelek.

* Tidak ada pulpen gliter merah muda di antara koleksi pulpen hitam Kimi.

* Tidak ada tali sepatu yang diikat ke kaki meja.

Meja Kimi kembali menjadi tempat paling rapi, bersih, dan steril di seluruh kelas. Namun, alih-alih merasa tenang untuk mengejar target PTN-nya, Kimi justru merasa makin terganggu. Penolakan halus dan jarak yang bentangkan Gita membuat Kimi sadar bahwa ia telah melangkah terlalu cepat hingga membuat gadis itu ketakutan.

"Kimi, lo ada masalah sama Gita?" tanya teman sebangku Kimi suatu siang. "Gue liat-liat, sekarang Gita kalau lewat barisan depan kayak lagi lewat kuburan. Tegang banget."

Kimi tidak menjawab. Ia hanya menatap sebuah pulpen gel bergliter warna pink yang sengaja ia beli beberapa hari lalu—berniat memberikannya pada Gita agar gadis itu tidak perlu menukar pulpennya lagi. Namun pulpen itu kini hanya tergeletak mati di dalam tasnya.

### Bab 7: Konfrontasi di Laboratorium Kimia

Sore itu, kelas mereka mendapatkan tugas kelompok acak untuk praktikum kimia. Dan seperti sudah diatur oleh takdir sekolah, nama Kimi dan Gita keluar dalam satu kelompok yang sama, hanya berdua.

Suasana di meja laboratorium lantai tiga itu terasa sangat kaku. Gita sibuk menatap tabung reaksi dengan pandangan super serius, seolah-olah benda kaca itu adalah hal paling menarik di dunia, demi menghindari kontak mata dengan Kimi.

"Git, lo bisa tuang larutan ini?" tanya Kimi sambil menyodorkan botol cairan.

"Oh, oke. Sini," jawab Gita singkat, tanpa menoleh. Namun karena tangannya gemetar akibat terlalu canggung, botol itu hampir saja slip dari jarinya.

Grep.

Tangan Kimi yang lebih besar dengan sigap menahan botol itu, sekaligus tidak sengaja menggenggam jemari Gita. Kulit mereka bersentuhan, dan Gita rasanya ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Ia buru-buru menarik tangannya dengan muka yang sudah memerah sampai ke telinga.

"Gita, stop," ucap Kimi, suaranya rendah namun terdengar tegas di ruang laboratorium yang mulai sepi. Kimi meletakkan botol kimia itu ke meja, lalu melepas kacamatanya, menatap Gita langsung dengan mata telanjang.

"Kenapa lo menjauh?" tanya Kimi langsung pada intinya.

Gita menelan ludah, matanya bergerak panik ke segala arah. "Siapa yang menjauh? Nggak kok! Gue cuma... gue cuma lagi tobat aja nggak mau ganggu lo belajar. Bagus kan? Lo jadi bisa fokus ambis."

"Gue nggak butuh fokus kalau fokusnya bikin lo kayak orang asing," balas Kimi telak.

Kimi melangkah satu tindakan lebih dekat, membuat Gita terpaksa menyandarkan punggungnya ke meja lab. "Gue sengaja biarin lo jailin gue selama ini, Git, karena gue suka. Gue suka setiap kali lo ada di sekitar gue. Jadi tolong, jangan canggung kayak gini. Gue lebih milih meja gue berantakan dan buku gue dicoret-coret sama lo, daripada lo diem dan jauhin gue kayak sekarang."

Gita terpaku, mulutnya sedikit terbuka. Semua sifat usil dan lidah tajamnya mendadak lumpuh total di hadapan pengakuan jujur dari si cowok kutu buku. Di ruang laboratorium yang berbau zat kimia itu, Gita akhirnya sadar, ia tidak bisa lagi kabur dari fakta bahwa Kimi si kutu buku telah berhasil membalikkan keadaan dan menjebak hatinya sendiri.

### Bab 8: Perang Batin sang Gadis Iseng

Penyesalan selalu datang belakangan, dan itulah yang dirasakan Kimi malam setelah insiden di laboratorium kimia. Di dalam kamarnya yang penuh buku, ia mondar-mandir dengan perasaan campur aduk. Ia merutuki mulutnya yang mendadak terlalu berani.

“Gue terlalu nekat. Sifat blak-blakan gue pasti malah bikin Gita makin merasa tertekan dan menjauh,” batin Kimi sambil memijat pelipisnya.

Sebagai cowok yang terbiasa menggunakan logika, Kimi mengambil keputusan untuk menarik diri. Ia sadar ia perlu mengendalikan perasaannya agar tidak merusak kenyamanan Gita. Dan cara yang ia pilih adalah dengan membuka diri untuk bergaul dengan orang lain. Pilihan itu jatuh pada *Zivana*.

Zivana adalah siswi berprestasi dari kelas sebelah, anggota klub debat yang memiliki minat yang sama dengan Kimi dalam hal akademik. Mereka berdua sering terlihat bersama di perpustakaan, mendiskusikan materi ujian, atau berjalan beriringan di koridor sambil membawa tumpukan buku silabus. Bagi Kimi, Zivana adalah "pengalih perhatian" yang aman untuk menetralkan hatinya yang telanjur acak-acakan karena Gita.

Melihat pemandangan baru itu setiap hari, Gita justru merasa otaknya makin berputar bagai wahana kincir angin. Hatinya mendadak menjadi medan perang ego yang sangat melelahkan.

Di satu sisi, ada rasa lega yang besar. Kimi tidak lagi menatapnya dengan pandangan intens seperti di laboratorium. Tidak ada lagi ucapan-ucapan tidak terduga yang membuat jantungnya cenat-cenut seolah habis lari maraton. Gita merasa dunianya kembali aman, bebas dari rasa canggung yang sempat membuatnya salah tingkah berminggu-minggu.

Namun di sisi lain, ada ruang kosong di hatinya yang mendadak terasa perih saat melihat Kimi tersenyum tipis mendengarkan penjelasan Zivana di selasar sekolah.

"Gita, lo liat deh Kimi sama Zivana. Cocok banget ya? Sama-sama pinter, serasi banget kalau ngobrol," komentar teman sebangku Gita sambil menunjuk ke arah jendela luar.

Gita yang sedang mengunyah keripik singkong mendadak berhenti. Keripik itu terasa hambar di lidahnya. Dadanya terasa sesak, ada letupan emosi panas yang asing yang mencubit hatinya. Gue cemburu? Nggak mungkin! Masa gue cemburu sama cowok kutu buku yang biasanya gue tempelin kertas 'Senggol Dong' di punggungnya?! sangkal Gita dalam hati, mencoba membantah kenyataan.

### Bab 9: Kehilangan Hak Istimewa

Kebimbangan Gita memuncak saat jam istirahat kedua. Ia berniat mengembalikan pulpen hitam milik Kimi yang tidak sengaja terbawa di tasnya minggu lalu. Saat berjalan ke kelas Kimi, langkahnya terhenti di dekat pintu.

Di sana, Kimi sedang duduk bersama Zivana. Yang membuat hati Gita semakin mencelos adalah melihat sebuah jepit rambut berwarna biru bertengger di rambut Kimi—sebuah keisengan dari Zivana yang tampaknya disambut Kimi dengan tawa kecil, tanpa penolakan.

Gita meremas pulpen di tangannya. Dahulu, hak untuk mengacak-acak rambut Kimi, menukar pulpennya, dan membuat cowok itu menghela napas pasrah adalah "hak istimewa" milik Gita seorang. Kini, posisi itu telah digantikan oleh gadis lain yang jauh lebih pintar dan anggun darinya.

Gita berbalik arah dengan langkah gontai, tidak jadi mengembalikan pulpen tersebut. Ia duduk di tribun lapangan basket yang sepi, menatap lapangan dengan pandangan kosong.

"Lo maunya apa sih, Git?" tanyanya pada diri sendiri dengan nada frustrasi. "Pas dia deketin, lo kabur karena takut deg-degan. Pas dia jauh dan sama cewek lain, lo malah ngerasa kayak kehilangan separuh napas lo."

### Bab 10: Jebakan yang Salah Alamat

Keesokan harinya, sifat usil Gita kembali muncul, namun kali ini digerakkan oleh rasa cemburu yang terpendam. Ia tidak bisa lagi menahan diri melihat Kimi dan Zivana yang makin lengket.

Gita menyelinap ke meja Kimi saat kelas kosong dan menaruh sebuah kotak jus instan di atas meja cowok itu. Di dalam sedotannya, Gita sudah memasukkan sejumput bubuk cabai kering—sebuah kejahilan klasik untuk membalas rasa kesalnya.

Namun, rencana itu berantakan. Saat jam masuk, justru Zivana-lah yang mengambil kotak jus tersebut karena mengira itu adalah pemberian dari teman kelas untuk mereka.

"Eh, jusnya buat aku ya, Kim? Kebetulan aku haus banget," ucap Zivana sambil memegang kotak tersebut, bersiap menusukkan sedotannya.

Gita yang mengintip dari pintu belakang langsung panik. Ia tidak berniat mencelakai Zivana. Sebelum Zivana sempat meminumnya, sebuah tangan dengan cepat merebut kotak jus itu.

"Jangan diminum, Ziv," ujar Kimi tegas.

Kimi menoleh ke arah pintu belakang, tepat ke arah mata Gita yang sedang terbelalak panik. Kimi tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sudah lama tidak Gita lihat. Kimi tahu persis ini adalah tanda tangan kejahilan siapa. Hanya ada satu orang di sekolah ini yang hobi menaruh jebakan di mejanya.

Kimi meletakkan jus itu kembali, lalu berdiri dan berjalan keluar kelas, melewati Gita yang masih mematung di dekat pintu. Saat berpapasan, Kimi berbisik sangat pelan, namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Gita meremang:

"Kalau lo cemburu dan pengen dapet perhatian gue lagi, bilang aja, Git. Nggak usah pake racun cabai ke orang lain. Gue selalu nunggu lo balik jailin gue."

Gita terpaku di tempatnya, wajahnya memanas hebat. Usaha Kimi untuk mengendalikan perasaan menggunakan Zivana ternyata gagal total, karena pada akhirnya, satu tindakan iseng dari Gita membuktikan bahwa radar hati Kimi tetap hanya terkunci pada satu gadis pengacau di hidupnya.

Pesan terselubung di ambang pintu kelas itu mengubah segalanya. Bagi Kimi, satu tindakan iseng dari Gita—meskipun nyaris salah sasaran—adalah konfirmasi nyata bahwa gadis pengacau itu masih peduli padanya. Hati Kimi membuncah; ia tidak bisa membohongi logikanya lagi bahwa Gita tetap berada di urutan nomor satu, tak tergantikan oleh siapa pun.

Namun, kegembiraan itu segera disusul oleh awan mendung dilema yang baru. Kimi kini terjebak di antara dua hati.

### Bab 11: Ketakutan di Balik Meja Perpustakaan

Sore itu di perpustakaan, suasana terasa sangat sunyi. Kimi duduk berhadapan dengan Zivana, dikelilingi oleh tumpukan buku persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Namun, fokus Kimi pecah. Matanya menatap barisan angka di buku kalkulus, tetapi pikirannya tertuju pada gadis berkuncir kuda yang mungkin saat ini sedang merencanakan keisengan lain di kelas.

Kimi melirik Zivana. Gadis itu sedang mencatat dengan tekun, sesekali merapikan rambutnya sambil tersenyum tipis ke arah Kimi saat mereka tidak sengaja bertatapan.

Secara teknis, memang belum ada komitmen di antara mereka. Kimi tidak pernah menembak Zivana, dan Zivana pun tidak pernah menyatakan cinta. Hubungan mereka murni dimulai sebagai teman belajar. Namun, Kimi bukan cowok yang peka-peka amat sampai tidak bisa melihat perubahan sikap Zivana.

Sorot mata Zivana saat menatapnya, perhatian-perhatian kecil seperti membawakan bekal buah potong, dan jepit rambut biru yang Zivana pasang di rambut Kimi tempo hari—semua itu adalah sinyal kuat. Kimi mulai didera ketakutan yang besar. Ia takut kedekatan yang ia ciptakan sebagai "pelarian" justru telah menumbuhkan harapan palsu di hati Zivana. Kimi tidak ingin menjadi cowok berengsek yang menyakiti gadis baik-baik seperti Zivana demi ego pribadinya.

"Kimi, kamu melamun? Bagian rumus yang ini salah tulis, loh," tegor Zivana lembut, jarinya menunjuk ke buku catatan Kimi.

Kimi terkesiap. "Ah, iya. Maaf, Ziv. Pikiran gue agak pecah hari ini."

Zivana menatap Kimi dengan pandangan teduh, namun ada kilat kecemasan di matanya. "Belakangan ini kamu sering nggak fokus. Ada... sesuatu yang lagi kamu pikirin? Atau ada orang lain yang lagi mengganggu pikiran kamu?"

Pertanyaan Zivana yang terlalu tepat sasaran itu membuat lidah Kimi mendadak kelu. 

### Bab 12: Detektif Gita dan Rasa Penasaran

Di tempat lain, Gita sedang berguling-guling di kasur kamarnya dengan frustrasi. Buku sketsa pemberian Eugene yang berisi gambar wajahnya sendiri tergeletak di samping bantal, namun pikirannya justru terbang ke arah Kimi dan Zivana.

Kalimat Kimi yang berbunyi, "Kalau lo cemburu... gue selalu nunggu lo balik jailin gue," terus berputar-putar di otaknya seperti lagu rusak.

"Dia bilang gitu, tapi tiap hari nempelnya sama Zivana! Maunya apa sih?!" gerutu Gita pada bantal gulingnya.

Gita mulai bertingkah seperti detektif. Ia mengingat-ingat kembali setiap interaksi antara Kimi dan Zivana. Apakah mereka sudah jadian? Apakah mereka hanya sekadar teman ambis belajar? Mengapa Kimi membiarkan Zivana menjahilinya sementara dulu Kimi bilang hanya suka dijahili oleh Gita?

Rasa penasaran itu perlahan-lahan menyiksa Gita. Ia sadar, ia tidak bisa terus-menerus bersikap abu-abu. Ia harus tahu status hubungan mereka, karena kenyataan bahwa Kimi mungkin sudah dimiliki oleh orang lain membuat dadanya terasa sangat sesak—sebuah perasaan yang jauh lebih menyakitkan daripada canggung atau deg-degan karena jatuh cinta.

 ### Bab 13: Pertemuan Tiga Sudut

Keesokan harinya di koridor sekolah, takdir kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang canggung. Gita sedang berjalan membawa sekotak donat—kali ini murni donat asli tanpa jebakan cabai—berniat memberikannya kepada Kimi sebagai bentuk "permintaan maaf" sekaligus cara untuk memancing obrolan.

Namun, di depan loker, ia melihat Kimi dan Zivana baru saja keluar dari ruang guru.

Langkah Gita terhenti. Kimi dan Zivana pun menghentikan langkah mereka saat melihat Gita berdiri di sana memegang kotak donat. Atmosfer di koridor sepi itu mendadak mendingin, menciptakan ketegangan yang tidak kasat mata di antara ketiga remaja tersebut.

Zivana melirik kotak donat di tangan Gita, lalu beralih menatap Kimi, seolah menyadari sesuatu. Sementara itu, Kimi berdiri di tengah-tengah, menatap Gita dengan pandangan penuh harap namun juga didera rasa bersalah saat melirik Zivana di sampingnya.

Gita menelan ludah. Keberanian yang biasanya ia miliki saat menjahili orang mendadak menguap. Ia menatap Kimi, lalu menatap Zivana, dan di dalam hatinya sebuah pertanyaan besar akhirnya menuntut sebuah jawaban: Siapa sebenarnya yang berhak berdiri di samping lo, Kim? Gue yang hobi bikin idup lo berantakan, atau Zivana yang bisa bikin masa depan lo tertata?

Hari-hari berlalu di SMA Nusantara, namun waktu terasa berjalan melambat bagi Kimi dan Gita. Koridor sekolah yang biasanya riuh kini terasa seperti labirin penuh teka-teki. Insiden saling tatap di depan loker tempo hari meninggalkan kecanggungan yang semakin mendalam, memicu perang batin di kepala mereka masing-masing.

 ### Bab 14: Sinyal yang Membingungkan

Bagi Kimi, setiap detik yang ia habiskan bersama Zivana kini berubah menjadi sesi analisis yang melelahkan. Zivana tidak pernah menuntut apa-apa, tetap menjadi teman belajar yang menyenangkan dan tenang. Namun, perubahan-perubahan kecil dalam sikap gadis itu justru membuat Kimi semakin bertanya-tanya.

Saat mereka berjalan di koridor yang ramai, Zivana secara alami akan bergeser lebih dekat hingga lengan mereka bersentuhan. Ketika Kimi berhasil memecahkan soal olimpiade yang rumit, binar di mata Zivana memancarkan rasa bangga yang teramat dalam—jenis binar yang biasanya hanya ditujukan untuk orang yang spesial. Bahkan, Zivana kini mulai menghafal jadwal latihan simulasi Kimi dan selalu memastikan ada sebotol air mineral dingin di mejanya sebelum Kimi meminta.

“Sebenarnya... siapa gue di hati lo, Ziv?” batin Kimi setiap kali menerima perhatian itu.

Kimi terjebak dalam dilema moral. Rasa penasarannya diliputi ketakutan. Jika ia bertanya secara langsung, ia takut akan memperjelas perasaan Zivana yang mungkin saja memang sudah melangkah terlalu jauh, dan itu berarti ia harus menyakiti gadis baik itu karena hatinya tetap milik Gita. Namun jika ia diam saja, ia merasa seperti pengecut yang sedang memanfaatkan ketulusan orang lain.

Dibalik Bingkai Kacamata (Bagian 2)

### Bab 15: Siksaan dalam Diam Di seberang koridor, di barisan bangku belakang kelasny...