Selasa, 19 Mei 2026

Dibalik Bingkai Kacamata (Bagian 2)

### Bab 15: Siksaan dalam Diam

Di seberang koridor, di barisan bangku belakang kelasnya, Gita mengalami siksaan yang berbeda namun tak kalah hebat. Rasa penasarannya terhadap hubungan Kimi dan Zivana sudah berada di ambang batas.

Gita yang biasanya menjadi mahkluk paling berisik di kelas, kini lebih sering menopang dagu sambil menatap kosong ke luar jendela. Keinginan untuk menjahili Kimi kembali membubung tinggi, namun setiap kali ia memegang penghapus atau kertas usil, bayangan wajah Zivana yang anggun dan pintar langsung melintas di pikirannya.

"Gue nggak punya hak lagi buat ngerusak harinya Kimi," bisik Gita pada diri sendiri, meremas kertas kosong di tangannya lalu melemparnya ke tempat sampah.

Gita merasa tersiksa karena posisinya yang serbabetah. Ia ingin maju dan bertanya langsung pada Kimi, "Lo sebenernya pacaran nggak sama Zivana?", tapi egonya menolak. Ia takut jawaban Kimi akan menghancurkan harapannya. Di sisi lain, ia juga tidak bisa kembali menjadi Gita yang cuek, karena hatinya telanjur terikat pada si cowok kutu buku. Rasa tidak tahu dan ketidakpastian ini perlahan mulai mengikis keceriaan yang menjadi ciri khas Gita.

### Bab 16: Dua Langkah yang Tertahan

Kimi dan Gita kini melalui hari-hari mereka dengan sebuah tanda tanya besar yang menggantung di atas kepala mereka. Komunikasi di antara mereka benar-benar terputus. Mereka bertingkah seolah kembali menjadi dua orang asing yang tidak sengaja berada di satu ruang kelas yang sama.

Kimi ingin kembali ke masa-masa di mana Gita selalu menjahilinya tanpa beban tetapi ia takut menyakiti Zivana dan takut Gita akan kabur lagi jika ia terlalu agresif. |

Gita ingin tahu kejelasan status Kimi agar ia bisa mengambil keputusan untuk maju atau mundur. Tetapi ia Takut mendapati kenyataan bahwa Kimi telah menemukan kebahagiaan yang lebih baik bersama Zivana.

Saat berpapasan di kelas, Kimi akan menatap Gita dengan pandangan yang seolah berkata, "Tolong ganggu gue lagi, Git," sementara mata Gita akan membalas dengan tatapan, "Jelasin ke gue tentang Zivana, Kim." Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menurunkan gengsi atau memulai pembicaraan. Mereka sama-sama tidak tahu harus bagaimana bertindak terhadap satu sama lain.

### Bab 17: Puncak Keheningan

Puncaknya terjadi saat pembagian rapor bayangan di hari Jumat sore. Kelas sudah kosong, dan sebagian besar murid sudah pulang untuk menikmati akhir pekan. Kimi masih duduk di bangkunya, merapikan buku-buku ke dalam tas dengan gerakan yang sangat lambat, sengaja mengulur waktu.

Di barisan belakang, Gita juga melakukan hal yang sama. Ia sengaja memperlambat gerakannya merapikan alat tulis, berharap Kimi akan berbalik dan mengajaknya bicara.

Suasana kelas begitu sunyi, hanya menyisakan suara deru angin dari luar jendela dan detak jam dinding sekolah. Jarak dari bangku depan Kimi ke bangku belakang Gita hanya berkisar beberapa meter, namun rasanya seperti membentang ribuan kilometer karena dinding tak kasat mata bernama kesalahpahaman dan tanda tanya.

Kimi akhirnya menyampirkan tasnya di bahu. Ia berdiri, lalu berbalik badan. Matanya langsung bertemu dengan mata Gita yang juga sedang menatapnya.

Keduanya terpaku. Di dalam keheningan kelas yang temaram sore itu, detak jantung mereka berdua seolah saling bersahutan, sama-sama menuntut jawaban atas misteri perasaan yang selama ini mereka sembunyikan di balik topeng keisengan dan buku-buku tebal.

Suasana kelas yang sepi itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Detak jam dinding seolah berdentang lebih keras di telinga Gita. Di dorong oleh rasa penasaran yang sudah berada di ubun-ubun dan tidak tertahankan lagi, Gita mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

Ia melangkah maju beberapa senti dari mejanya, menatap lurus ke dalam manik mata Kimi di balik lensa kacamatanya.

"Kim," panggil Gita, suaranya sedikit bergetar namun terdengar jelas di ruangan kosong itu. "Gue... gue nggak bisa kayak gini terus. Gue mau nanya satu hal sama lo."

Kimi menahan napas, ia membetulkan posisi tasnya yang mulai merosot. "Nanya apa, Git?"

"Lo... sebenernya ada hubungan apa sama Zivana? Apa lo berdua udah jadian?" tanya Gita tanpa aling-aling. Kalimat itu meluncur begitu saja, menyuarakan semua siksaan batin yang ia pendam berminggu-minggu ini.

Mendengar pertanyaan itu, Kimi mendadak kaku. Otaknya yang biasa encer memecahkan soal kalkulus serumit apa pun, mendadak lumpuh total. Kimi bingung harus menjawab apa. Jika ia bilang tidak ada hubungan apa-apa, fakta bahwa ia membiarkan Zivana sedekat itu akan membuat ucapannya terdengar seperti kebohongan. Namun jika ia bilang mereka dekat, ia takut Gita akan salah paham dan mengira hatinya telah berpindah.

Lidah Kimi kelu. Ia membuka mulutnya, mencoba merangkai kata. "Git, sebenernya gue sama Zivana itu..."

Srek.

Belum sempat sepatah kata pun terucap dari bibir Kimi, pintu geser kelas terbuka. Sosok Zivana muncul di ambang pintu dengan senyuman anggunnya yang khas, sambil menenteng tas ransel kecil.

"Kimi, maaf ya agak lama. Tadi aku harus balikin buku paket dulu ke perpustakaan," kata Zivana ceria, seolah tidak menyadari ketegangan hebat yang sedang terjadi di dalam kelas. Ia melirik ke arah Gita sebentar, memberikan senyum sopan, lalu kembali menatap Kimi. "Yuk, jalan sekarang? Kebetulan bus kita bentar lagi dateng."

Kimi menoleh ke arah Zivana, lalu kembali menatap Gita dengan panik. Situasi ini benar-benar membuatnya kikuk dan mati kutu. Di satu sisi, ia tidak enak membatalkan janji pulang bersama Zivana yang sudah disepakati sejak siang. Di sisi lain, ia tahu ia sedang meninggalkan bom waktu di hadapan Gita.

"Ah... iya, Ziv," jawab Kimi terbata-bata. Ia menatap Gita dengan tatapan penuh rasa bersalah, seolah memohon agar Gita mau menunggu penjelasannya nanti. "Git, gue... gue duluan ya."

Kimi akhirnya melangkah keluar kelas, menyusul Zivana yang sudah menunggunya di koridor. Suara langkah kaki mereka berdua perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Gita tetap berdiri mematung di tempatnya. Kotak donat yang ia pegang terasa menjadi sangat berat. Kepergian Kimi bersama Zivana di depan matanya sendiri seolah menjadi jawaban bisu yang justru membuat tanda tanya di kepala dan hatinya membengkak menjadi semakin besar, semakin liar, dan semakin menyakitkan.

### Bab 18: Labirin Ketakutan Sang Kutu Buku

Hari-hari berganti minggu, dan prediksi Kimi tentang "bom waktu" itu perlahan-lahan mulai mendekati detik-detik terakhirnya.

Bukannya menjauh setelah insiden di kelas sepi itu, keadaan justru memaksa Kimi untuk semakin dekat dengan Zivana. Mereka berdua terpilih sebagai perwakilan sekolah untuk kompetisi cerdas cermat tingkat provinsi. Jadwal bimbingan yang padat setelah jam sekolah membuat waktu Kimi hampir habis tersedot di dalam ruang multimedia bersama Zivana.

Kimi menyadari betul hal ini. Setiap kali Zivana mengusap peluh di dahinya dengan tisu, atau setiap kali mereka pulang larut malam berteman lampu jalanan, Kimi bisa merasakan detak bom itu semakin kencang. Cepat atau lambat, salah satu dari dua gadis ini akan terluka oleh sikap abu-abunya.

Malam-malam Kimi kini tidak lagi tenang. Di kamar yang biasanya hanya dipenuhi rumus dan teori, Kimi duduk di tepi kasur sambil menatap langit-langit. Logikanya yang biasa berjalan tajam kini buntu total oleh rasa takut yang luar biasa.

**Jika ia memilih maju ke arah Gita:* Ia harus menolak Zivana. Artinya, ia akan menghancurkan senyum tulus gadis baik yang selama ini selalu mendukungnya tanpa pamrih. Kimi tidak siap melihat air mata Zivana runtuh karena dirinya.

**Jika ia memilih bertahan bersama Zivana:* Ia harus merelakan Gita pergi selamanya. Membayangkan Gita benar-benar menghilang dari hidupnya, membayangkan tidak ada lagi tawa usil, jepit rambut pink, atau kertas-kertas ejekan di punggungnya, membuat dada Kimi terasa kosong dan hampa.

Namun, di atas semua itu, ketakutan terbesar Kimi adalah keserakahan hatinya sendiri. Ia sadar, sikap ragu-ragu dan penakutnya ini bisa membuat kedua gadis itu muak.

“Kalau gue terus-terusan kayak gini, pada akhirnya... gue bakal kehilangan keduanya,” bisik Kimi frustrasi, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya.

Ia takut hari itu akan tiba—hari di mana Gita pergi karena lelah digantungkan oleh ketidakpastian, dan Zivana pergi karena sadar bahwa selama ini ia hanya mendiami tubuh cowok yang hatinya terkunci untuk orang lain.

### Bab 19: Tatapan Dari Kejauhan

Sementara itu di kelas, Gita benar-benar telah bertransformasi. Ia bukan lagi gadis paling iseng di sekolah. Kursi belakang tempatnya duduk kini terasa seperti sebuah pulau pengasingan yang sunyi.

Gita sering memperhatikan Kimi dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Kimi dan Zivana terlihat begitu serasi saat mendiskusikan materi lomba di selasar sekolah. Setiap kali melihat itu, Gita selalu memegang pulpen hitam milik Kimi yang sengaja belum ia kembalikan. Pulpen itu menjadi satu-satunya benda yang membuktikan bahwa mereka pernah punya cerita yang dekat.

Gita tidak lagi bertanya, tidak lagi menuntut jawaban seperti sore itu di kelas sepi. Diamnya Gita justru menjadi alarm paling berbahaya bagi Kimi. Gita sedang bersiap untuk menyerah, sementara Kimi masih membeku di persimpangan jalan, menggenggam ketakutannya sendiri di tengah detik bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Ketidakpastian yang menggantung akhirnya membuat Gita tidak tahan lagi. Ia tidak bisa terus-menerus menebak isi kepala Kimi, ataupun mengintip kedekatan cowok itu dengan Zivana dari kejauhan. Baginya, mendingan tahu kenyataan pahit sekalian daripada terus-terusan tersiksa oleh harapan yang tidak pasti.

Suatu sore, saat Kimi sedang ke kamar mandi di tengah sesi bimbingan cerdas cermat, Gita melihat Zivana sedang duduk sendirian di bangku taman dekat ruang multimedia. Dengan langkah kaki yang terasa berat namun mantap, Gita memberanikan diri untuk menghampirinya.

### Bab 20: Keberanian di Taman Sekolah

Zivana mendongak ketika bayangan Gita menutupi sinar matahari sore yang menerpanya. Ia tampak terkejut, namun dengan cepat senyum anggunnya kembali mengembang.

"Eh, Gita? Ada apa?" tanya Zivana ramah.

Gita menarik napas dalam-dalam, meremas ujung rok abu-abunya untuk meredakan gemetar di tangannya. Ia tidak mau lagi berbasa-basi.

"Ziv, sorry kalau gue lancang," ujar Gita, suaranya terdengar serius, sangat berbeda dengan pembawaannya yang biasanya jenaka. "Gue cuma mau nanya satu hal. Dan gue butuh jawaban jujur dari lo. Sebenarnya... apa hubungan lo sama Kimi?"

Suasana di taman itu mendadak hening. Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Zivana. Namun, alih-alih marah, tersinggung, atau bersikap defensif, Zivana justru hanya tersenyum tipis. Sorot matanya tampak begitu dewasa, seolah ia sudah lama tahu bahwa momen konfrontasi ini pasti akan datang.

Zivana menutup buku catatannya, lalu menatap Gita dengan lekat.

"Gita, sejujurnya, di antara aku dan Kimi belum ada komitmen apa pun," jawab Zivana dengan suara yang sangat tenang. "Kami memang dekat, dan aku nggak akan bohong kalau aku punya perasaan lebih ke dia. Tapi aku juga nggak buta, Git. Aku tahu siapa yang selama ini ada di pikiran Kimi, bahkan saat dia lagi duduk di depan aku."

Gita tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengar kejujuran Zivana.

Zivana berdiri, lalu melangkah mendekati Gita. Ia menepuk pundak Gita pelan dengan penuh simpati. "Kalau kamu emang bener-bener suka sama Kimi, tunjukin ke dia, Git. Jangan malah menjauh atau cuma bisa diam kayak sekarang. Biar Kimi yang milih dan mutusin secara jantan, siapa yang sebenarnya dia mau untuk jalan di samping dia."

### Bab 21: Bola di Tangan Kimi

Ucapan Zivana seperti sebuah hantaman keras yang menyadarkan Gita. Selama ini, ego dan rasa takutnya telah membuatnya memilih untuk mundur dan berasumsi sendiri. Zivana, dengan segala keanggunannya, justru memberikan tantangan terbuka yang sangat adil. Tidak ada permusuhan, tidak ada drama perebutan yang kekanak-kanakan.

Sore itu juga, saat Kimi baru saja keluar dari ruang multimedia setelah bimbingan selesai, ia terkejut melihat Gita sudah berdiri di dekat tangga koridor, menunggunya. Di samping Kimi, Zivana berjalan melewati mereka sambil memberikan tatapan penuh arti kepada Kimi, seolah berkata, “Selesaikan ini sekarang.”

Kimi menelan ludah, menatap Gita dengan jantung yang berdegup kencang. "Gita? Lo... belum pulang?"

Gita melangkah maju, menatap lurus ke dalam manik mata Kimi. Ia mengeluarkan pulpen hitam milik Kimi dari dalam saku seragamnya, lalu meraih tangan Kimi dan meletakkan pulpen itu di telapak tangan cowok itu.

"Gue ke sini buat balikin pulpen lo, Kim. Dan buat bilang sesuatu yang harusnya udah gue bilang dari dulu," ucap Gita, matanya berbinar penuh tekad. "Gue suka sama lo. Gue suka sama lo sejak gue selalu jailin lo tiap hari. Dan sekarang gue nggak mau kabur lagi."

Kimi terpaku, tangannya yang menggenggam pulpen mendadak kaku.

"Gue udah ngobrol sama Zivana," lanjut Gita, suaranya melembut namun terdengar tegas. "Sekarang, bolanya ada di tangan lo, Kim. Bom waktunya udah selesai. Lo nggak bisa terus-terusan diam karena takut kehilangan dua-duanya. Sekarang, lo harus pilih... siapa yang lo mau ada di hidup lo?"

Tanda tanya besar yang selama ini menyiksa mereka akhirnya pecah menjadi sebuah pilihan nyata. Kimi kini berdiri di persimpangan jalan terdalam di hidupnya, menatap pulpen hitam di tangannya, sadar bahwa detik ini juga, ia harus melepaskan salah satu dari mereka demi masa depan hatinya.

Genggaman pulpen hitam di tangan Kimi terasa seberat bongkahan batu. Tantangan terbuka dari Gita—yang didukung oleh kedewasaan Zivana—membuat malam-malam Kimi selanjutnya dilewati tanpa tidur. Baginya, menyusun pembuktian rumus matematika paling rumit di dunia masih memiliki pola yang pasti. Namun, mengurai benang kusut di hatinya sendiri? Benar-benar tidak ada rumusnya.

Tiga hari setelah sore itu, hujan deras mengguyur kota sejak siang. Kimi berjalan pulang sendirian dari ruang bimbingan dengan payung hitam besarnya. Kepalanya masih dipenuhi bayangan wajah dua gadis yang menuntut ketegasannya.

Sampai akhirnya, langkah kaki Kimi terhenti di dekat halte bus pinggir jalan.

### Bab 22: Di Bawah Rintik yang Sama

Di sana, di bawah kanopi pertokoan yang sempit dan bocor, berdiri seorang gadis yang sangat ia kenal. *Gita.*

Gita sedang mendekap tas sekolahnya erat-erat agar tidak basah. Rambut kuncir kudanya yang biasanya bergoyang ceria kini tampak lepek terkena cipratan air hujan. Kedua tangannya menggosok lengan seragamnya, mencoba menghalau rasa dingin yang menusuk. Gadis paling usil di sekolah itu tampak begitu rapuh dan kecil di tengah badai.

Melihat pemandangan itu, logika Kimi mendadak berhenti bekerja. Ketakutan akan menyakiti Zivana, gengsi, dan semua analisis rumit di kepalanya menguap begitu saja. Yang tersisa hanyalah naluri purba untuk melindungi.

Kimi melangkah lebar menembus hujan, lalu mengarahkan payung hitamnya ke atas kepala Gita.

Gita terlonjak kaget saat curahan air hujan yang tadinya mengenai ujung sepatunya mendadak terhalang. Ia mendongak, dan matanya langsung bertemu dengan kacamata Kimi yang sedikit berembun karena hawa dingin.

"K-Kimi?" bisik Gita, suaranya sedikit bergetar karena kedinginan sekaligus terkejut.

### Bab 23: Kejujuran yang Hanyut bersama Hujan

Kimi tidak menjawab. Ia justru mendekatkan payungnya, memastikan seluruh tubuh Gita terlindungi dari air hujan, meskipun akibatnya bahu sebelah kirinya sendiri mulai basah kuyup.

"Kenapa nggak nelepon jemputan? Kenapa nggak nunggu di dalam sekolah?" tanya Kimi, nadanya terdengar cemas, hampir seperti omelan.

Gita menggigit bibir bawahnya, menatap ujung sepatu Kimi. "Ponsel gue mati. Lagian... gue sengaja mau pulang cepet biar nggak perlu papasan sama lo atau Zivana di sekolah. Gue butuh waktu buat siap-siap denger penolakan lo, Kim."

Mendengar ucapan pasrah dari gadis yang biasanya selalu tertawa lepas saat menjahilinya, hati Kimi seperti diremas. Di sinilah titik baliknya. Di tengah riuh suara hujan yang menghantam payung dan jalanan, Kimi tersadar akan satu hal yang selama ini ia sangkal karena ketakutan.

Saat bersama Zivana, Kimi merasa tertantang, dihargai, dan masa depannya terasa terencana dengan baik. Namun, hanya saat bersama Gita—gadis pengacau yang sedang kedinginan di depannya ini—Kimi merasa hidup. Ketakutan terbesarnya bukanlah kehilangan keduanya, melainkan melihat mata jenaka Gita meredup dan berubah menjadi asing baginya.

Kimi menurunkan sedikit payungnya, mempersempit jarak di antara mereka hingga Gita bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

"Gue udah punya jawabannya, Git," ucap Kimi, suaranya terdengar sangat dalam dan mantap di antara deru hujan.

Gita menahan napas, menatap mata Kimi dengan cemas.

"Menyelesaikan soal olimpiade itu gampang, karena gue cuma perlu nyari jawaban yang paling logis. Tapi milih lo... itu bukan soal logika," Kimi tersenyum tipis, sebuah senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan. "Milih lo itu karena hati gue emang nggak pernah mau jalan ke arah orang lain. Gue mau meja gue berantakan lagi, Git. Gue mau idup gue diacak-acak lagi sama lo. Gue... milih lo."

### Bab 24: Hati yang Telah Menemukan Rumah

Air mata yang sejak tadi ditahan Gita akhirnya luruh, menyatu dengan sisa-sisa cipratan air hujan di pipinya. Rasa cemas, cemburu, dan tersiksa yang ia rasakan berminggu-minggu ini langsung sirna digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya.

Gita tersenyum, senyuman badai yang sangat Kimi rindukan. Tanpa memedulikan baju Kimi yang basah, Gita maju satu langkah dan memeluk pinggang cowok kutu buku itu dengan erat di bawah perlindungan payung hitam mereka.

"Dasar kutu buku lambat," bisik Gita di dada Kimi, tawanya yang renyah akhirnya kembali terdengar. "Lama banget sih mikirnya."

Kimi terkekeh pelan, membalas pelukan Gita dengan satu tangannya yang bebas, mendekapnya erat seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi. Pertemuan tidak sengaja di pinggir jalan ini telah menghanyutkan semua keraguan.

Keesokan harinya di sekolah, Kimi menemui Zivana di perpustakaan. Dengan jantan dan penuh rasa hormat, Kimi mengutarakan keputusannya. Zivana, dengan kedewasaan yang luar biasa, hanya tersenyum getir namun mengangguk paham. Ia menghargai kejujuran Kimi yang tidak lagi menggantungkan perasaannya.

Bom waktu itu akhirnya meledak, namun tidak menghancurkan segalanya. Zivana tetap menjadi teman belajar yang ia hormati, sementara di barisan bangku belakang kelas, Gita si gadis paling iseng telah kembali. Bedanya, kali ini saat Gita menempelkan kertas usil di punggung Kimi, di bawahnya selalu ada tulisan kecil: "Milik Gita, jangan diganggu."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dibalik Bingkai Kacamata (Bagian 2)

### Bab 15: Siksaan dalam Diam Di seberang koridor, di barisan bangku belakang kelasny...