### Bab 15: Siksaan dalam
Diam
Di seberang koridor, di
barisan bangku belakang kelasnya, Gita mengalami siksaan yang berbeda namun tak
kalah hebat. Rasa penasarannya terhadap hubungan Kimi dan Zivana sudah berada
di ambang batas.
Gita yang biasanya
menjadi mahkluk paling berisik di kelas, kini lebih sering menopang dagu sambil
menatap kosong ke luar jendela. Keinginan untuk menjahili Kimi kembali
membubung tinggi, namun setiap kali ia memegang penghapus atau kertas usil,
bayangan wajah Zivana yang anggun dan pintar langsung melintas di pikirannya.
"Gue nggak punya hak
lagi buat ngerusak harinya Kimi," bisik Gita pada diri sendiri, meremas
kertas kosong di tangannya lalu melemparnya ke tempat sampah.
Gita merasa tersiksa karena posisinya yang serbabetah. Ia ingin maju dan bertanya langsung pada Kimi, "Lo sebenernya pacaran nggak sama Zivana?", tapi egonya menolak. Ia takut jawaban Kimi akan menghancurkan harapannya. Di sisi lain, ia juga tidak bisa kembali menjadi Gita yang cuek, karena hatinya telanjur terikat pada si cowok kutu buku. Rasa tidak tahu dan ketidakpastian ini perlahan mulai mengikis keceriaan yang menjadi ciri khas Gita.
### Bab 16: Dua Langkah
yang Tertahan
Kimi dan Gita kini
melalui hari-hari mereka dengan sebuah tanda tanya besar yang menggantung di
atas kepala mereka. Komunikasi di antara mereka benar-benar terputus. Mereka
bertingkah seolah kembali menjadi dua orang asing yang tidak sengaja berada di
satu ruang kelas yang sama.
Kimi ingin kembali ke
masa-masa di mana Gita selalu menjahilinya tanpa beban tetapi ia takut
menyakiti Zivana dan takut Gita akan kabur lagi jika ia terlalu agresif. |
Gita ingin tahu kejelasan
status Kimi agar ia bisa mengambil keputusan untuk maju atau mundur. Tetapi ia Takut
mendapati kenyataan bahwa Kimi telah menemukan kebahagiaan yang lebih baik
bersama Zivana.
Saat berpapasan di kelas, Kimi akan menatap Gita dengan pandangan yang seolah berkata, "Tolong ganggu gue lagi, Git," sementara mata Gita akan membalas dengan tatapan, "Jelasin ke gue tentang Zivana, Kim." Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menurunkan gengsi atau memulai pembicaraan. Mereka sama-sama tidak tahu harus bagaimana bertindak terhadap satu sama lain.
### Bab 17: Puncak
Keheningan
Puncaknya terjadi saat
pembagian rapor bayangan di hari Jumat sore. Kelas sudah kosong, dan sebagian
besar murid sudah pulang untuk menikmati akhir pekan. Kimi masih duduk di
bangkunya, merapikan buku-buku ke dalam tas dengan gerakan yang sangat lambat, sengaja
mengulur waktu.
Di barisan belakang, Gita
juga melakukan hal yang sama. Ia sengaja memperlambat gerakannya merapikan alat
tulis, berharap Kimi akan berbalik dan mengajaknya bicara.
Suasana kelas begitu
sunyi, hanya menyisakan suara deru angin dari luar jendela dan detak jam
dinding sekolah. Jarak dari bangku depan Kimi ke bangku belakang Gita hanya
berkisar beberapa meter, namun rasanya seperti membentang ribuan kilometer
karena dinding tak kasat mata bernama kesalahpahaman dan tanda tanya.
Kimi akhirnya
menyampirkan tasnya di bahu. Ia berdiri, lalu berbalik badan. Matanya langsung
bertemu dengan mata Gita yang juga sedang menatapnya.
Keduanya terpaku. Di
dalam keheningan kelas yang temaram sore itu, detak jantung mereka berdua
seolah saling bersahutan, sama-sama menuntut jawaban atas misteri perasaan yang
selama ini mereka sembunyikan di balik topeng keisengan dan buku-buku tebal.
Suasana kelas yang sepi
itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Detak jam dinding seolah berdentang
lebih keras di telinga Gita. Di dorong oleh rasa penasaran yang sudah berada di
ubun-ubun dan tidak tertahankan lagi, Gita mengepalkan tangannya kuat-kuat,
mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Ia melangkah maju
beberapa senti dari mejanya, menatap lurus ke dalam manik mata Kimi di balik
lensa kacamatanya.
"Kim," panggil
Gita, suaranya sedikit bergetar namun terdengar jelas di ruangan kosong itu.
"Gue... gue nggak bisa kayak gini terus. Gue mau nanya satu hal sama
lo."
Kimi menahan napas, ia
membetulkan posisi tasnya yang mulai merosot. "Nanya apa, Git?"
"Lo... sebenernya
ada hubungan apa sama Zivana? Apa lo berdua udah jadian?" tanya Gita tanpa
aling-aling. Kalimat itu meluncur begitu saja, menyuarakan semua siksaan batin
yang ia pendam berminggu-minggu ini.
Mendengar pertanyaan itu,
Kimi mendadak kaku. Otaknya yang biasa encer memecahkan soal kalkulus serumit
apa pun, mendadak lumpuh total. Kimi bingung harus menjawab apa. Jika ia bilang
tidak ada hubungan apa-apa, fakta bahwa ia membiarkan Zivana sedekat itu akan
membuat ucapannya terdengar seperti kebohongan. Namun jika ia bilang mereka
dekat, ia takut Gita akan salah paham dan mengira hatinya telah berpindah.
Lidah Kimi kelu. Ia
membuka mulutnya, mencoba merangkai kata. "Git, sebenernya gue sama Zivana
itu..."
Srek.
Belum sempat sepatah kata
pun terucap dari bibir Kimi, pintu geser kelas terbuka. Sosok Zivana muncul di
ambang pintu dengan senyuman anggunnya yang khas, sambil menenteng tas ransel
kecil.
"Kimi, maaf ya agak
lama. Tadi aku harus balikin buku paket dulu ke perpustakaan," kata Zivana
ceria, seolah tidak menyadari ketegangan hebat yang sedang terjadi di dalam
kelas. Ia melirik ke arah Gita sebentar, memberikan senyum sopan, lalu kembali
menatap Kimi. "Yuk, jalan sekarang? Kebetulan bus kita bentar lagi
dateng."
Kimi menoleh ke arah
Zivana, lalu kembali menatap Gita dengan panik. Situasi ini benar-benar
membuatnya kikuk dan mati kutu. Di satu sisi, ia tidak enak membatalkan janji
pulang bersama Zivana yang sudah disepakati sejak siang. Di sisi lain, ia tahu
ia sedang meninggalkan bom waktu di hadapan Gita.
"Ah... iya,
Ziv," jawab Kimi terbata-bata. Ia menatap Gita dengan tatapan penuh rasa
bersalah, seolah memohon agar Gita mau menunggu penjelasannya nanti. "Git,
gue... gue duluan ya."
Kimi akhirnya melangkah
keluar kelas, menyusul Zivana yang sudah menunggunya di koridor. Suara langkah
kaki mereka berdua perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang jauh lebih
dingin dari sebelumnya.
Gita tetap berdiri mematung di tempatnya. Kotak donat yang ia pegang terasa menjadi sangat berat. Kepergian Kimi bersama Zivana di depan matanya sendiri seolah menjadi jawaban bisu yang justru membuat tanda tanya di kepala dan hatinya membengkak menjadi semakin besar, semakin liar, dan semakin menyakitkan.
### Bab 18: Labirin
Ketakutan Sang Kutu Buku
Hari-hari berganti
minggu, dan prediksi Kimi tentang "bom waktu" itu perlahan-lahan
mulai mendekati detik-detik terakhirnya.
Bukannya menjauh setelah
insiden di kelas sepi itu, keadaan justru memaksa Kimi untuk semakin dekat
dengan Zivana. Mereka berdua terpilih sebagai perwakilan sekolah untuk
kompetisi cerdas cermat tingkat provinsi. Jadwal bimbingan yang padat setelah
jam sekolah membuat waktu Kimi hampir habis tersedot di dalam ruang multimedia
bersama Zivana.
Kimi menyadari betul hal
ini. Setiap kali Zivana mengusap peluh di dahinya dengan tisu, atau setiap kali
mereka pulang larut malam berteman lampu jalanan, Kimi bisa merasakan detak bom
itu semakin kencang. Cepat atau lambat, salah satu dari dua gadis ini akan
terluka oleh sikap abu-abunya.
Malam-malam Kimi kini
tidak lagi tenang. Di kamar yang biasanya hanya dipenuhi rumus dan teori, Kimi
duduk di tepi kasur sambil menatap langit-langit. Logikanya yang biasa berjalan
tajam kini buntu total oleh rasa takut yang luar biasa.
**Jika ia memilih maju ke
arah Gita:* Ia harus menolak Zivana. Artinya, ia akan menghancurkan senyum
tulus gadis baik yang selama ini selalu mendukungnya tanpa pamrih. Kimi tidak
siap melihat air mata Zivana runtuh karena dirinya.
**Jika ia memilih
bertahan bersama Zivana:* Ia harus merelakan Gita pergi selamanya. Membayangkan
Gita benar-benar menghilang dari hidupnya, membayangkan tidak ada lagi tawa
usil, jepit rambut pink, atau kertas-kertas ejekan di punggungnya, membuat dada
Kimi terasa kosong dan hampa.
Namun, di atas semua itu,
ketakutan terbesar Kimi adalah keserakahan hatinya sendiri. Ia sadar, sikap
ragu-ragu dan penakutnya ini bisa membuat kedua gadis itu muak.
“Kalau gue terus-terusan
kayak gini, pada akhirnya... gue bakal kehilangan keduanya,” bisik Kimi
frustrasi, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya.
Ia takut hari itu akan tiba—hari di mana Gita pergi karena lelah digantungkan oleh ketidakpastian, dan Zivana pergi karena sadar bahwa selama ini ia hanya mendiami tubuh cowok yang hatinya terkunci untuk orang lain.
### Bab 19: Tatapan Dari
Kejauhan
Sementara itu di kelas,
Gita benar-benar telah bertransformasi. Ia bukan lagi gadis paling iseng di
sekolah. Kursi belakang tempatnya duduk kini terasa seperti sebuah pulau
pengasingan yang sunyi.
Gita sering memperhatikan
Kimi dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Kimi dan Zivana terlihat begitu serasi
saat mendiskusikan materi lomba di selasar sekolah. Setiap kali melihat itu,
Gita selalu memegang pulpen hitam milik Kimi yang sengaja belum ia kembalikan.
Pulpen itu menjadi satu-satunya benda yang membuktikan bahwa mereka pernah
punya cerita yang dekat.
Gita tidak lagi bertanya,
tidak lagi menuntut jawaban seperti sore itu di kelas sepi. Diamnya Gita justru
menjadi alarm paling berbahaya bagi Kimi. Gita sedang bersiap untuk menyerah,
sementara Kimi masih membeku di persimpangan jalan, menggenggam ketakutannya
sendiri di tengah detik bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Ketidakpastian yang
menggantung akhirnya membuat Gita tidak tahan lagi. Ia tidak bisa terus-menerus
menebak isi kepala Kimi, ataupun mengintip kedekatan cowok itu dengan Zivana
dari kejauhan. Baginya, mendingan tahu kenyataan pahit sekalian daripada terus-terusan
tersiksa oleh harapan yang tidak pasti.
Suatu sore, saat Kimi sedang ke kamar mandi di tengah sesi bimbingan cerdas cermat, Gita melihat Zivana sedang duduk sendirian di bangku taman dekat ruang multimedia. Dengan langkah kaki yang terasa berat namun mantap, Gita memberanikan diri untuk menghampirinya.
### Bab 20: Keberanian di
Taman Sekolah
Zivana mendongak ketika
bayangan Gita menutupi sinar matahari sore yang menerpanya. Ia tampak terkejut,
namun dengan cepat senyum anggunnya kembali mengembang.
"Eh, Gita? Ada
apa?" tanya Zivana ramah.
Gita menarik napas
dalam-dalam, meremas ujung rok abu-abunya untuk meredakan gemetar di tangannya.
Ia tidak mau lagi berbasa-basi.
"Ziv, sorry kalau
gue lancang," ujar Gita, suaranya terdengar serius, sangat berbeda dengan
pembawaannya yang biasanya jenaka. "Gue cuma mau nanya satu hal. Dan gue
butuh jawaban jujur dari lo. Sebenarnya... apa hubungan lo sama Kimi?"
Suasana di taman itu
mendadak hening. Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut
Zivana. Namun, alih-alih marah, tersinggung, atau bersikap defensif, Zivana
justru hanya tersenyum tipis. Sorot matanya tampak begitu dewasa, seolah ia sudah
lama tahu bahwa momen konfrontasi ini pasti akan datang.
Zivana menutup buku
catatannya, lalu menatap Gita dengan lekat.
"Gita, sejujurnya,
di antara aku dan Kimi belum ada komitmen apa pun," jawab Zivana dengan
suara yang sangat tenang. "Kami memang dekat, dan aku nggak akan bohong
kalau aku punya perasaan lebih ke dia. Tapi aku juga nggak buta, Git. Aku tahu
siapa yang selama ini ada di pikiran Kimi, bahkan saat dia lagi duduk di depan
aku."
Gita tertegun, lidahnya
mendadak kelu mendengar kejujuran Zivana.
Zivana berdiri, lalu melangkah mendekati Gita. Ia menepuk pundak Gita pelan dengan penuh simpati. "Kalau kamu emang bener-bener suka sama Kimi, tunjukin ke dia, Git. Jangan malah menjauh atau cuma bisa diam kayak sekarang. Biar Kimi yang milih dan mutusin secara jantan, siapa yang sebenarnya dia mau untuk jalan di samping dia."
### Bab 21: Bola di Tangan Kimi
Ucapan Zivana seperti
sebuah hantaman keras yang menyadarkan Gita. Selama ini, ego dan rasa takutnya
telah membuatnya memilih untuk mundur dan berasumsi sendiri. Zivana, dengan
segala keanggunannya, justru memberikan tantangan terbuka yang sangat adil. Tidak
ada permusuhan, tidak ada drama perebutan yang kekanak-kanakan.
Sore itu juga, saat Kimi
baru saja keluar dari ruang multimedia setelah bimbingan selesai, ia terkejut
melihat Gita sudah berdiri di dekat tangga koridor, menunggunya. Di samping
Kimi, Zivana berjalan melewati mereka sambil memberikan tatapan penuh arti kepada
Kimi, seolah berkata, “Selesaikan ini sekarang.”
Kimi menelan ludah,
menatap Gita dengan jantung yang berdegup kencang. "Gita? Lo... belum
pulang?"
Gita melangkah maju,
menatap lurus ke dalam manik mata Kimi. Ia mengeluarkan pulpen hitam milik Kimi
dari dalam saku seragamnya, lalu meraih tangan Kimi dan meletakkan pulpen itu
di telapak tangan cowok itu.
"Gue ke sini buat
balikin pulpen lo, Kim. Dan buat bilang sesuatu yang harusnya udah gue bilang
dari dulu," ucap Gita, matanya berbinar penuh tekad. "Gue suka sama
lo. Gue suka sama lo sejak gue selalu jailin lo tiap hari. Dan sekarang gue
nggak mau kabur lagi."
Kimi terpaku, tangannya
yang menggenggam pulpen mendadak kaku.
"Gue udah ngobrol
sama Zivana," lanjut Gita, suaranya melembut namun terdengar tegas.
"Sekarang, bolanya ada di tangan lo, Kim. Bom waktunya udah selesai. Lo
nggak bisa terus-terusan diam karena takut kehilangan dua-duanya. Sekarang, lo
harus pilih... siapa yang lo mau ada di hidup lo?"
Tanda tanya besar yang
selama ini menyiksa mereka akhirnya pecah menjadi sebuah pilihan nyata. Kimi
kini berdiri di persimpangan jalan terdalam di hidupnya, menatap pulpen hitam
di tangannya, sadar bahwa detik ini juga, ia harus melepaskan salah satu dari
mereka demi masa depan hatinya.
Genggaman pulpen hitam di
tangan Kimi terasa seberat bongkahan batu. Tantangan terbuka dari Gita—yang
didukung oleh kedewasaan Zivana—membuat malam-malam Kimi selanjutnya dilewati
tanpa tidur. Baginya, menyusun pembuktian rumus matematika paling rumit di
dunia masih memiliki pola yang pasti. Namun, mengurai benang kusut di hatinya
sendiri? Benar-benar tidak ada rumusnya.
Tiga hari setelah sore
itu, hujan deras mengguyur kota sejak siang. Kimi berjalan pulang sendirian
dari ruang bimbingan dengan payung hitam besarnya. Kepalanya masih dipenuhi
bayangan wajah dua gadis yang menuntut ketegasannya.
Sampai akhirnya, langkah kaki Kimi terhenti di dekat halte bus pinggir jalan.
### Bab 22: Di Bawah Rintik yang Sama
Di sana, di bawah kanopi
pertokoan yang sempit dan bocor, berdiri seorang gadis yang sangat ia kenal.
*Gita.*
Gita sedang mendekap tas
sekolahnya erat-erat agar tidak basah. Rambut kuncir kudanya yang biasanya
bergoyang ceria kini tampak lepek terkena cipratan air hujan. Kedua tangannya
menggosok lengan seragamnya, mencoba menghalau rasa dingin yang menusuk. Gadis
paling usil di sekolah itu tampak begitu rapuh dan kecil di tengah badai.
Melihat pemandangan itu,
logika Kimi mendadak berhenti bekerja. Ketakutan akan menyakiti Zivana, gengsi,
dan semua analisis rumit di kepalanya menguap begitu saja. Yang tersisa
hanyalah naluri purba untuk melindungi.
Kimi melangkah lebar
menembus hujan, lalu mengarahkan payung hitamnya ke atas kepala Gita.
Gita terlonjak kaget saat
curahan air hujan yang tadinya mengenai ujung sepatunya mendadak terhalang. Ia
mendongak, dan matanya langsung bertemu dengan kacamata Kimi yang sedikit
berembun karena hawa dingin.
"K-Kimi?" bisik Gita, suaranya sedikit bergetar karena kedinginan sekaligus terkejut.
### Bab 23: Kejujuran
yang Hanyut bersama Hujan
Kimi tidak menjawab. Ia
justru mendekatkan payungnya, memastikan seluruh tubuh Gita terlindungi dari
air hujan, meskipun akibatnya bahu sebelah kirinya sendiri mulai basah kuyup.
"Kenapa nggak
nelepon jemputan? Kenapa nggak nunggu di dalam sekolah?" tanya Kimi,
nadanya terdengar cemas, hampir seperti omelan.
Gita menggigit bibir
bawahnya, menatap ujung sepatu Kimi. "Ponsel gue mati. Lagian... gue
sengaja mau pulang cepet biar nggak perlu papasan sama lo atau Zivana di
sekolah. Gue butuh waktu buat siap-siap denger penolakan lo, Kim."
Mendengar ucapan pasrah
dari gadis yang biasanya selalu tertawa lepas saat menjahilinya, hati Kimi
seperti diremas. Di sinilah titik baliknya. Di tengah riuh suara hujan yang
menghantam payung dan jalanan, Kimi tersadar akan satu hal yang selama ini ia sangkal
karena ketakutan.
Saat bersama Zivana, Kimi
merasa tertantang, dihargai, dan masa depannya terasa terencana dengan baik.
Namun, hanya saat bersama Gita—gadis pengacau yang sedang kedinginan di
depannya ini—Kimi merasa hidup. Ketakutan terbesarnya bukanlah kehilangan keduanya,
melainkan melihat mata jenaka Gita meredup dan berubah menjadi asing baginya.
Kimi menurunkan sedikit
payungnya, mempersempit jarak di antara mereka hingga Gita bisa merasakan
kehangatan tubuhnya.
"Gue udah punya
jawabannya, Git," ucap Kimi, suaranya terdengar sangat dalam dan mantap di
antara deru hujan.
Gita menahan napas,
menatap mata Kimi dengan cemas.
"Menyelesaikan soal olimpiade itu gampang, karena gue cuma perlu nyari jawaban yang paling logis. Tapi milih lo... itu bukan soal logika," Kimi tersenyum tipis, sebuah senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan. "Milih lo itu karena hati gue emang nggak pernah mau jalan ke arah orang lain. Gue mau meja gue berantakan lagi, Git. Gue mau idup gue diacak-acak lagi sama lo. Gue... milih lo."
### Bab 24: Hati yang
Telah Menemukan Rumah
Air mata yang sejak tadi
ditahan Gita akhirnya luruh, menyatu dengan sisa-sisa cipratan air hujan di
pipinya. Rasa cemas, cemburu, dan tersiksa yang ia rasakan berminggu-minggu ini
langsung sirna digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya.
Gita tersenyum, senyuman
badai yang sangat Kimi rindukan. Tanpa memedulikan baju Kimi yang basah, Gita
maju satu langkah dan memeluk pinggang cowok kutu buku itu dengan erat di bawah
perlindungan payung hitam mereka.
"Dasar kutu buku
lambat," bisik Gita di dada Kimi, tawanya yang renyah akhirnya kembali
terdengar. "Lama banget sih mikirnya."
Kimi terkekeh pelan,
membalas pelukan Gita dengan satu tangannya yang bebas, mendekapnya erat seolah
tidak akan pernah melepaskannya lagi. Pertemuan tidak sengaja di pinggir jalan
ini telah menghanyutkan semua keraguan.
Keesokan harinya di
sekolah, Kimi menemui Zivana di perpustakaan. Dengan jantan dan penuh rasa
hormat, Kimi mengutarakan keputusannya. Zivana, dengan kedewasaan yang luar
biasa, hanya tersenyum getir namun mengangguk paham. Ia menghargai kejujuran
Kimi yang tidak lagi menggantungkan perasaannya.
Bom waktu itu akhirnya
meledak, namun tidak menghancurkan segalanya. Zivana tetap menjadi teman
belajar yang ia hormati, sementara di barisan bangku belakang kelas, Gita si
gadis paling iseng telah kembali. Bedanya, kali ini saat Gita menempelkan
kertas usil di punggung Kimi, di bawahnya selalu ada tulisan kecil: "Milik
Gita, jangan diganggu."










Tidak ada komentar:
Posting Komentar